Pindah Rumah | asepsaiba.web.id
Alhamdulillah, ‘rumah’ baru saya selesai dibangun. Silakan anda mengunjunginya di alamat ini, http://asepsaiba.web.id.
Blog ini akan tetap hidup dan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya di blogosphere. Bagaimanapun, selama hampir 4 tahun blog ini selalu setia menjadi wadah untuk mengekspersikan pemikiran-pemikiran saya dalam berbagai hal.
Terima kasih, dan saya tunggu di sana ya!
#Kamseupay | Fitnah dibalik Komentar (2)
Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian. Dari kasus yang menimpa kawan-kawan blogger yang komentarnya diubah, ini bisa menjadi hikmah bagi kita. Bahwa layaknya kita hidup dalam keseharian sosial di lingkungan msyarakat, ada nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi. Begitupun dalam aktivitas kita di dunia media sosial. Dewasa ini, media sosial tidak bisa lagi dianggap sebagai ‘pendamping’ tapi sudah mengakar dalam aktivitas kehidupan manusis yang ingin disebut modern.
Balik lagi ke soal kasus #kamseupay yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Sebelumnya izinkan saya memohon maaf karena meski judulnya “kamseupay, saya tidak membahas tentang kata tersebut. LEbih jauh dari sekedar itu sebenarnya, ada hikmah bisa dipetik dari kejadian yang saya ceritakan kemarin : Read more…
#Kamseupay | Fitnah dibalik Komentar
Dalam dunia blogging, salah satu aktifitas yang cukup ‘digemari’ adalah blogwalking. Mengunjungi blog orang lain, entah itu memang sudah kenal, atau bahkan baru pertamakali mengunjungi menghadirkan nuansa tersendiri. Bagi sebagian blogger, rutinitas ini malah mengkin manjadi sebuah ‘ritual’ wajib yang harus dilakukannya disela-sela ia menulis di blognya. Karena pada hakikatnya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Begitupun seorang blogger, ia membutuhkan pembacanya agar pesan yang ingin disampaikan melalui tulsannya bisa terjembatani.
Blogwalking bagi blog yang memang sudah ‘dewasa’ dan malah dtunggu-tunggu tulisannya, mungkin sudah menjadi teman masa lalu, karena tanpa saling berkunjung pun pembaca sudah bejibun membaca tulisannya. Read more…
Toilet VVVVVVVIP
Tadinya pagi ini saya berniat mau tulis tentang “Friday the 13th” setelah membaca status facebook seorang kawan. Tapi akhirnya saya urungkan saja dulu setelah mendengarkan cuapan Arie Dagink dan Miund di radio Motion 97,5 FM. Kedua orang itu memang selalu bisa menghadirkan pagi yang penuh senyum dan inspirasi dengan pembawaannya yang fresh, khas dan kocak. Pagi ini mereka ngebahas tentang toilet. Ya, toilet saudara-saudari… Toilet di gedung wakil rakyat itu….
Saya jadi pengen menyanyikan lagunya Sherina, “Geregetan.. O..o..o.. Geregetan..”. Gimana nggak? Mereka punya rencana mau renovasi 240 toilet yang ada di gedung itu dengan anggaran dana 2 Miliar! Pernah dengar ata lihat tolit VIP? Saya pernah melihanya di sebuah rest area jalan tol Cikampek. Meski saya belum pernah memasukinya. Nah, ini adalah kisah tentang toliet VVVVVIP. Tak cukup satau atau dua saja embel-embel huruf “V” (very) untuk toilet-toilet yang dibangun dengan dana 2 miliar. Read more…
Surat untuk Dahlan Iskan : “Tetap Fokus ya Pak!”
Jujur saja, saya baru mengenal bapak ketika diangkat menjadi direktur utama PLN, waktu itu media gencar memberitakan terpilihnya bapak dari sisi negatif. Selain lebih dikenal sebagai pimpinan media Jawa Pos Grup, bapak juga dikenal sebagai pemilik sebuah perusahaan penyedia tenaga lisrik di luar pulau Jawa sana. Katanya sih, karena hal itu banyak yang meragukan kepemimpinan bapak di perusahaan setrum listrik tersebut. Tapi dengan gaya bapak yang khas, belum genap setahun bapak berhasil menepis anggapan-anggapan miring tersebut. salah satunya adalah masalah byar-pet akibat pemadaman bergilir yang menjadi ‘teman’ setia PLN selama ini berhasil bapak usir.
Hingga sampailah bapak terpilih untuk mengisi kursi menteri BUMN yang kosong karena Pak Mustafa Abubakar yang uzur karena sakitnya. Karena kebetulan saya mencari nafkah di salah satu perusahaan milik pemerintah, secara tak langsung saya pun merasa ‘terhubung’ dengan bapak
Read more…
‘Ndeso!
Saya paling sebal lihat iklan yang dibintangi Tukul Arwana, apalagi iklan salah satu provider ponsel di Indonesia. Sebal lihat adegan yang jelas-jelas merendahkan orang ‘ndeso alias orang kampung. Orang kampung digambarkan dengan jelas nggak melek teknologi lah, internet lah. Bahkan wajah yang -maaf- ‘hancur’ diarahkan ke orang ‘ndeso’ tadi.
Sebenarnya saya sudah cukup lama gerah dengan ungkapan ‘ndeso’ yang dipopulerkan oleh Tukul. Saya ini asli orang desa, orang kampung, tapi alhamdulillah saya sedikit melek teknologi maupun internet.
15 atau 20 tahun lalu, bolehlah dibilang orang udik macam saya tak mengenal apa itu internet.tapi lihat realita sekarang. Internet bukan lagi barang aneh bagi saudara-saudara saya di kampung sana. Apalagi ketika demam facebook merajalela.
Jadi, buat Mas Tukul, tolonglah anda tak lagi gunakan istilah itu untuk mengolok-olok saudara-saudara anda sendiri. Kecuali kalau itu memang ditujukan buat anda sendiri.




