Cerita Mudik #1

Mudik memang akan selalu berkesan bagi sebagian saudara kita yang berasal dari daerah, dan hanya menumpang mengais rizki serta tempat tinggal. Kecintaan terhadap kampung halaman serta rindu berkumpul dengan keluarga mengalahkan berbagai persoalan klasik dalam bermudik ria. Termasuk saya tentunya. Saya akan rela meluangkan waktu untuk melakukan perjalanan mudik yang cukup menyita tenaga itu.

Baik, di tulisan ini -dan mungkin tulisan selanjutnya- saya mencoba berkisah seputar pengalaman kami (saya dan keluarga kecil) melakukan perjalanan mudik. Kampung halaman saya memang tidak sejauh saudara senasib lain yang lebih jauh, misal di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Perjalanan saya “hanya” cukup ditempuh 5-6 jam saja. Bogor-Indramayu rata-rata cukup ditempuh sekian jam saja.

Kantor memang memberi hari cuti bersama selain tanggal merah di almanak. Tapi rasanya tak cukup bagi kami. Beruntung, saya masih memiliki sisa jatah cuti yang cukup, maka jadilah saya meliburkan diri 1 hari sebelum dan 2 hari setelah cuti bersama. Jadi, pada H-2 saya tentukan sebagai hari mudik bagi kami.

Persiapan klasik macam cek kendaraan, packing barang, mengistirahatkan badan saya lakukan dengan seksama. Tak ingin jika ada satu hal kecil yang bisa mengganggu kenyamanan perjalanan kami. Spesial bagi putri kecil yang sudah mulai bawel bin cerewet :).

Sesekali saya tengok berita seputar mudik di tv, atau lihat kamera cctv punya Dephub yang lagi jadi primadona. Sambil melirik kondisi kampung halaman saya -Patrol- yang juga terpasang cctv. Hmm, relatif ramai lancar di setiap titik, hanya tersendat akibat kegiatan lokal macam pasar tumpah dan penyeberang jalan saja. Semoga pas nanti giliran saya mudik juga demikian, harap saya dalam hati.

Semula saya putuskan untuk berangkat setelah sahur. Awalnya istri manut saja. Tapi akhirnya dia protes juga, karena ba’da sahur biasanya malah sedang ngantul-ngantuknya. Hmm, ada benarnya juga, karena meamng di pagi harinya kantuk menyerang mata saya. Dan, melanjutlah saya kembali terlelap selepas sholat subuh.

The Journey is Begin
H-2 Lebaran pagi pukul 10.00 WIB. Bismillah. Cuaca sangat mendukung. Panas tidak, mendung pun tidak. Cukup untuk menahan terik mentari pagi.Tol Jagorawi lanjut tol Cikampek relatif sangat lancar. Malah nyaris seperti hari biasa saja. Suasana khas mudik mulai saya temui persis di pintu keluar tol Cikampek. Jalan mulai tersendat mulai titik itu hingga daerah Ciasem. Jika pada kondisi normal, jarak tersebut bisa saya tempuh 1 jam saja. Saat itu, saya menempuhnya dalam tempo hingga 4 jam. Cukup untuk membuat kaki kiri persneling saya gempor.

Khas mudik banget lah pokoknya mah!

Suasana khas lain yang baru saya temui tepat di pertigaan Mutiara Cikampek adalah para pengendara sepeda motor dengan tumpukan barang bawaannya, atau fully loading akibat ditumpangi satu keluarga dengan 3 anak sekaligus. Weleh… Bagaimanapun, dalam hati kecil saya bisa memakluminya. Itulah bukti dari yang saya bilang di awal tulisan ini. Cinta kampung halaman. Meski, tak dipungkiri ada juga yang niatnya malah pamer pada rekan sejawat di kampung.

Suasana pintul tol Cikampek H-2

Akibat Dikebut

Sudah tradisi tiap tahun, perbaikan jalan digeber dekat-dekat hari menjelang suasana mudik. Tambal sana-sini, bongakr sana-sini, yang membuat repot warga, hingga akhirnya pengerjaan tak maksimal. Pun hasilnya. Sesekali saya temui kondisi jalan yang belum rampung diratakan, atau dibersihkan, bahkan berlubang, meski sedikit. Bagi pengendara mobil mungkin tak banyak berpengaruh, tapi bagi pengendara motor malah bisa jadi penyebab kecelakaan. Padahal jalur Pantura merupakan jalur nasional yang semestinya jadi perhatian penuh departemen terkait. Sudah jadi rahasia umum jika kontruksi kadang menyalahi standard akibat permainan proyek yang menguntungkan oknum tertentu.

Istirahat Sejenak

Merelaksasi otot tubuh setiap 2 jam sangat bagus untuk kenyamanan perjalanan. Ini memang saya buktikan sendiri. Setalahnya badan jadi lebih segar dan siap lanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, kami berdua meniatkan diri untuk berpuasa meski ada keringanan bagi musafir, bukan? :) Ah, di mobil kan tidak membutuhkan energi yang besar. Jadi tak perlulah kami bermanja dengan tidak berpuasa. Meski saat saya menepikan kendaraan untuk rehat, saya melihat jejeran warung dadakan yang menggoda dengan jualan es kelapa mudanya. Ya, warung-warung itu pun jadi pemandangan khas tiap hajatan mudik ini. Dari obrolan kecil dengan salah satu pemilik warung, ternyata lapak dadakan itu cukup menguntungkan. Salah satunya karena rata-rata mereka menaikan harga jualan dari harga normal. Jadi, tiap tahun pasti akan selalu kita temui warung dadakan itu. Saya pun jadi korbannya, ketika beduk Magrib tanda berbuka berkumandang, kami pun melambatkan jalan kendaraan untuk mencari warung makanan. Berhentilah di sebuah warung pecel lele, kami pesan pecel ayam plus nasi 3 porsi. Kami harus rela membayar Rp 60.000 untuk 3 porsi itu, yang dalam kondisi normal mungkin cukup 45 ribu saja. :)

Bersambung…

SELAMAT KEMBALI DAN MENANG!

About these ads

8 thoughts on “Cerita Mudik #1

  1. ihihihihi… ismi nggak ikutan mudik…
    seumur hidup baru sekali ngerasain yg namanya mudik lebaran, pas jaman SMP…
    Abis itu kapok, nggak mau lagi… nggak kuat sama macetnya… hihihihi…

  2. duh, asiknya Mas Asep bisa mudik dgn keluarga :)
    bunda juga mudik , tapi dekat saja, dr tangerang ke bogor, cukup ditempuh 45 menit via tol jagorawi :)

    Dlm kesempatan ini bunda ingin mengucapkan :
    Selamat Merayakan Hari Kemenangan 1 syawal 1431 H.
    minal aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan bathin
    Semoga Mas Asep dan keluarga selalu dilimpahi dgn rahmat dan barokahNYA,amin

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s