Pilih Mana, Kuantitas atau Kualitas Pertemuan?

happy-familyAnak kecil itu berlari riang ketika dia mendengar bunyi pintu gerbang rumah berderak. Anak 2,5 tahun itu berteriak kencang, “Ayah pulang…!”. Dia langsung memeluk erat tubuh ayahnya yang baru turun dari sepeda motornya. Anak kecil itu meracau, “Yah, maenan yuk, mancing-mancingan yuk, maen bongkar pasang yuk”, bla.. bla.. bla.. Dengan penuh manja ia terus merajut dengan terus mendekap erat tubuh ayahnya. Sang ayah hanya tersenyum, masih terlihat jelas berkas keletihan dalam wajahnya setelah seharian ia lelah bekerja. Tapi di balik wajah itu, hatinya sangat senang melihat perilaku putri kesayangannya. Apalagi melihat sang istri juga menyambut dengan senyuman yang meneduhkan hati. Balasan ucapan salam, cium tangan, serta sun kening adalah ritual yang menjadi obat penghilang lelah bagi sang ayah.

Sang ayah berusaha keras untuk mempertahankan ritual itu setiap hari. Ia selalu mengusahakan agar setiap pekerjaan yang dibebankan kepadanya selalu selesai tepat waktu sebelum jam pulang kantor. Sehingga ia bisa pulang segera, melakukan ritual-ritual tersebut. Ia mencoba mempertahankan kuantitas pertemuan, serta meningkatkan kualitas pertemuan itu.

Kuantitas dan kualitas dalam sebuah perjumpaan, apalagi perjumpaan dengan keluarga, merupakan hal yang ingin dicapai oleh setiap keluarga. Namun, adakalanya keduanya terpisahkan, sengaja atau tidak disengaja. Contohnya bagi DR Marwah Daud Ibrahim, politisi wanita senior yang sudah malang-melintang di dunia perpolitikan di Indonesia. Ia mengutamakan kualitas pertemuan dengan putra-putrinya akibat kesibukannya. Atau curhatan dati Kang Nurhadi, yang istrinya berharap ia bisa selalu pulang lebih cepat. Karena waktu ibarat cepat berlalu tanpa kita mampu menyadarinya.

Kualitas pertemuan juga terkait dengan perkembangan zaman, membuat kuantitas pertemuan orangtua dengan anak sering terbentur waktu. Orangtua hanya memiliki sedikit waktu untuk anak. “Ketika bertemu mood untuk berkomunikasi, tunjukkan kualitas komunikasi itu,” demikian pendapatk etua Perdiknas A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M. (cybertokoh.com).

Semoga, bagi kita para ayah selalu diberi kekuatan untuk bisa selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga tercinta. Sehinga pertemuan bisa dilakukan dengan kuantitas yang sering serta lebih berkualitas. Amin…

Advertisements

9 thoughts on “Pilih Mana, Kuantitas atau Kualitas Pertemuan?

  1. Kalo masalah ketemu dengan anyak-anyak, saya kira tidak bermasalah mas pada kualitasnya, kalo kuantitasnya mimang perlu lebih diperbanyak, karena mereka mingsih sangat membutuhken bimbingan.
    Kalo pertemuan dengan istri, menurutku sih nyang penting kualitasnya. Pasti inyak 😆

  2. aamiiin… pilih dua2nya kuantitas n kualitas, kalo kagak bisa dua-duanya ya kualitasnya yang dpt, siiip pak…btw, sy tuh mbak, pak, bukan maz-maz loh.. boleh tukeran link yaa’..^^ makasiih…

  3. Pingback: Bunga Matahari dari Sahabat « Blog Asepsaiba

  4. Pingback: Bunga Matahari dari Sahabat | asepsaiba.web.id

  5. Kuantitas harus equal dengan kualitas, namun masih banyak terdapat kuantitas tinggi namun kualitas rendah walau ada yang kuantitas rendah namun kualitas tinggi. Ada hal yang tersembunyi yang perlu adanya dialog bersama agar kuantitas rendah namun berkualitas tinggi, sulit untuk diterapkan namun layak untuk diperjuangkan…demi keharmonisan dalam rumah tangga….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s