Bola, oh Bola

muSemalam sudah dibela-belain pakai jaket tim kesayangan buat nonton mereka tarung lawan Liverpool, eh… ternyata kafe-nya sempit dan sudah sesak sama penggila EPL. Ya sudah, ngacir deh dari tempat itu. Akhirnya tetap terdampar di sudut kamar. Tapi kali ini tidak seapes tulisan saya kemarin. Si teman itu bisa datang menemani nonton bareng MU lawan Liverpool. Ulasan jalannya pertandingan silahkan baca senidir di kompas, detik, de el el… Tentu akhir dari pertandingan tadi malam menyisakan sedikit kekecewaan. Karena saya adalah fans Man. Uinted. Tapi, saya sendiri tidak terlalu mafhum tentang sepakbola, saya pun tidak pandai mengocek bola, saya tidak terlalu hafal nama-nama pemain bola, apalagi pelatihnya. Saya hanya seorang penggemar sepakbola. Saya penggemar Manchester United tanpa harus paham betul punggawa-punggawa tim itu saat ini. Di Italia, saya suka AS Roma, tapi tentu saja, saya tidak tahu betul para pemain AS Roma, kecuali Franseco Totti seorang. Aneh, bukan?

Kebanyakan para penggila bola akan selalu mengikuti perkembangan timnya, bahkan setiap hari. dengan fasih mereka mampu menyebut nama-nama pemain tim pujaan mereka, bahkan sampai posisinya bermain, negara asal, bahkan sampai kekasihnya. Saat pertandingan itu disiarkan malam atau dini hari, para penikmat bola pasti akan mempersiapkan segalanya demi menonton pertandingan itu, kantuk pun dilawan dengan berbagai macam nutrisi, kopi ditemani kacang goreng. Nah, saya hanya niatnya saja yang menggebu-gebu, tapai saat peluit dibunyikan, eh.. Saya malah sudah melayang dalam mimpi… esok harinya yang tersisa tinggal rasa gondok dan mangkel 🙂

Berbagai macam atribut pun tanpa ragu mereka beli, bahkan untuk yang berkocek tebal, kaus originalnya pun akan meraka bayar. Demi kepuasan mendukung timnya. Saya pun demikian (kamsudnya tidak beli yang original itu…), pernik bola saya koleksi, meskipun tidak seberapa jumlahnya. Tapi ya itu tadi, hanya sebatas suka, dan secara tidak langsung memproklamirkan diri… Nih, saya penggemar Manchester United… :))

Apalagi sekarang musimnya putsal, eh.. futsal. Dimanapun, kapanpun permainan menggiring bola ke gawang lawan ini dapat dimainkan. Cukup hanya butuh lapangan ukuran dengan panjang 25-42 m x lebar 15-25 m, dan 12 orang pemain. Asah bola pun jadilah. Sekarang ini malah sudah sangat mudah dijumpai arena-arena futsal di berbagai kota. Di Medan saja, lapangan futsal disewakan dengan berbagai macam segmen pasar. Dari menengah ke bawah yang mematok harga Rp 30.000 – 50.000 per jam, hingga kalangan menegah ke atas yang harga sewanya mencapai Rp 250.000 – 350.000. Padahal, dulu waktu jamannya saya kecil di kampung, permainan macam futsal itu ‘kan sangat serina dimainkan di pelataran sekolah SD. Ukuran dan jumlah pemainnya pun agak mirip. Bedanya, dulu nama futsal itu belum dikenal. Jadinya ya permainan itu tetap saja dinamakan ‘maen bola’.

Indonesia menargetkan untuk menjadi tuan rumah di piala dunia 2022. Ada rasa bangga ketika mendengar gagasan itu. Tapi dibalik itu, terbersit rasa pesimis hal itu dapat diwujudkan, melihat perkembangan sepakbola negeri ini berjalan laiknya penyu. Lambat dan selalu saja tertinggal. Berbagai kejuaraan tingkat regional saja tim kita susah payah berjibaku, dan berakhir minim prestasi. Apapun, sebaiknya kita tepis rasa pesimis itu dengan bahu-membahu memajukan persepakbolaan Indonesia. Tim, pemain, penonton, media, pemerintah harus bekerjasama mewujudkan kebangkitan dunia persepakbolaan Indonesia. Semoga!

Advertisements

27 thoughts on “Bola, oh Bola

  1. smoga dech 2022 indonesia dah jago ngutak ngutik bola,..dan jadi juara dunia,..bisa juga khan,..asal kerja keras ttnya ya…

  2. Sepakbola itu unik dan betul2 merakyat, bukan cuma pemainnya bisa sampai berantem gara2 membela timnya, penontonnya pun kalo perlu ikut berjibaku. Coba aja cek di forum2 sepakbola, satu sama lain bisa saling menjelekkan sampai2 keluar kata2 yg gak ngenakin.

    Sayang memang, sampai saat ini sepakbola negeri kita juga sangat jauh tertinggal, jangankan dari eropa atau Amrik, di kawasan regional aja udah mpot2an. Padahal, mungkin banyak yg belum tahu, liga Jepang alis J’Legue dulunya belajar dari kompetisi Galatama dulunya sebelum mereka bisa maju seperti skrg ini… Ironis bgt ya 😦

  3. wadhuh… turut berduka atas kekalahan MU atas Liverpool… juga atas rekor Vidic yang 3x berturut-turut selalu mendapat kartu merah saat ketemu Liverpool.. tapi perlu diingat, tahun lalu MU 2x kalah dari Liverpool tetapi menjadi juara liga primer… hehehe… salam MU…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  4. Awalnya saya penggemar berat “AC MILAN” sejak SMA namun sejak kepindahan Shevchenko waktu itu. Kegemaran saya kepada AC MILAN dan sepak bola jadi menurun drastis. kalo dulu setiap AC MILAN bertanding saya usahakan tidak akan ketinggaln sedetikpun, sekarang Jangankan menonton pertandingan sepakbola manapun, menonton pertandingan AC MILAN saja saya sudah hampir tidak pernah. bisa dikatakan saya tidak terlalu tertarik lagi dengan dunis sepakbola saat ini apalagi Futsall hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s