Jual Beli Polusi

Sekira tahun lalu, saya mendapat pengetahuan baru tentang Clean Development Mechanism (CDM). Rekan kerja saya yang waktu itu kebetulan tergabung dalam satu bagian menceritakan kesuksesannya turut serta ambil bagian dalam program CDM tersebut. CDM di negara berkembang seperti Indonesia dapat menjadi salah satu sumber pendanaan. Bagaimana sistematikanya? Begini, menurut rekan saya, negara-negara maju yang notabene merupakan raja-raja industri penghasil emisi (baca: polusi), akan membayar setiap satuan pengurangan karbon emisi (Certified Emission Reduction, CER) yang dilakukan oleh pelaku industri di negara-negara berkembang. CDM adalah satu-satunya mekanisme dibawah Kyoto Protocol, yang menawarkan win-win solution antara negara maju dengan negara berkembang dalam rangka pengurangan emisi gas rumah kaca (GHGs), dimana negara maju menanamkan modalnya di negara berkembang dalam proyek-proyek yang dapat menghasilkan pengurangan emisi GHGs, dengan imbalan CER (Certified Emission Reductions).

Tujuan strategis protokol Kyoto adalah mengurangi emisi-emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Indonesia melakukan ratifikasi protokol Kyoto memberikan peluang ekonomi melalui penerapan CDM.

Di Indonesia, sudah cukup banyak pabrik yang menerapkan teknologi ramah lingkungan. Nah, dengan membuat proposal dan kemudian mengusulkan ke PBB, dalam hal ini ke UNFCC (United Nations Framework Convention on Climate Change, Konvensi Perubahan Iklim). Setelah dilakukan kajian dan evaluasi, apabila memang layak, maka setelah proposal tersebut disetujui, maka proyek atau aktivitas industri yang dilakukan tersebut juga dapat menghasilkan nilai ekonomis dari konversi CER atau carbon credit tersebut. Saat ini sudah 12 proyek disetujui dan lebih dari 150 proyek dalam tahap validasi.

Rekan saya itu mendapat keuntungan cukup besar dari mekanisme penukaran CER tersebut. Bayangkan, hanya dengan menjadi kontributor saja, dia mendapatkan imbalan yang ‘lumayan’ besar yang resmi masuk ke kantong pribadinya. Tentunya ini peluang bisnis yang menarik. Namun, tampaknya negara maju mulai melakukan manuver untuk menghapus Protokol Kyoto dan menginginkan agar kewajiban penurunan emisi karbon dikurangi. Tentunya hal ini cukup berdampak pada penerapan mekanisme CDM. Apalagi, Protokol Kyoto sendiri akan berakhir pada tahun 2012.

Saya pun dulu sempat tertarik untuk serius mendalam CDM ini, tapi terbentur kesibukan kantor yang selalu menumpuk akhirnya terlupakan. Bagaimana dengan sahabat? Punya pengalaman tentang hal ini?

Lebih jauh tentang CDM bisa dibaca di sini, panduan dan mekanismenya bisa dipelajari di sini.

Penenggulangan dampak pemanasan global (global warming) memang sudah tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, namun harus dilakukan kerjasama secara global meliputi semua negara.

Mengapa kesepakatan global mengenai perubahan iklim penting? Karena kita perlu menyelamatkan bumi ini untuk generasi berikutnya…Kesepakatan bersama akan mengikat kita untuk mencegah dampak yang lebih buruk atas peningkatan gas rumah kaca. Jangan biarkan bumi ini semakin “memanas”! (kompas)

Go green! Save the earth!

Advertisements

38 thoughts on “Jual Beli Polusi

  1. setuju! dari semua berita yg ada, mulai dari korupsi, terorisme, dll. yg paling penting ya global warming. bbrp daerah di pasifik udah tenggelam. gurun sahara juga makin lama makin ke selatan. harusnya hal ini jadi prioritas..

    salam kenal yah! :mrgreen:

    • Semuanya penting di mata masing2 mas… Memang sih, akhir2 ini headline-nya selalu itu2 saja. Tapi, masih banyak juga kok yang concern memerhati masalah ini..

      Salam kenal juga yaks..

  2. Seharusnya dengan ikut meratifikasi protokol kyoto kita bisa menjadi negara yang cukup bersih dari polusi. Dibidang kehutanan sudah dengan REDD. Dan mantapnya bisa dijadikan ladang bisnis.

    • kok hutan melimpah kang, bukannya lahan yg luas ya buat bikin hutan? mau dimanfaatin hutannya apa daya serap karbon dioksidanya.

    • Tapi, ratifikasi ini mau ngga mau kita harus memanfaatkannya secara maksimal mas.. Bayangkan, hutan kita melimpah bisa menghasilkan dana buat pembangunan hanya dengan melakukan konversi CER tersebut.. 🙂

  3. betul sekali kang.. Memang kalo membahas lingkungan perlu dibahas secara global.. Kita semua di dunia ini sama2 menggunakan air,, sama2 menggunakan udara,, so perlu perbaikan lingkungan bersama-sama.. terutama polusi dan sampah…

  4. kalo negara berkembang mah kayanya ga terlalu ngaruh kalo sendirian berjuang…orang yg banyak bikin polusi gede itu negara maju,,sementara mereka nakal ga mau mengurangi,cuma nyuruh yg kecil2 aja…curang itu namanya

    • Memang dilema sih… Di satu sisi, kita mendapat dana segar dari negara maju, di lain pihak, mereka tetap melakukan aktivitas polusinya dengan sedikit upaya mengurangi efeknya…

    • Sekedar koreksi. Protokol Kyoto itu memili target penurun kadar CO2 sebesar thn 1991 di tahun berapa ya targetnya (2020 klo nda salah, koreksi aja). xixixixi lupa.
      Nah klo di negara melebihi akan kena sangki pembayaran denda, begitu juga sebaliknya untuk negara yg dapat menurunkan emisi CO2 juga akan dapat dana, ini yg di maksud CERs atau perdagangan emisi.
      Jadi mudah2an gak ada yg di untung-rugi, inilah maksud win-win solution yg diharapkan protokol kyoto.
      Dan mengapa jaman George w Bush, Amerika (dan beberapa negara lain) menolak hal ini, karena kan mati industri mereka.

  5. Yang ‘mbayar itu PBB (UNFCC), byr ke proyek/pabrik yg mnjalankan CDM itu. Dananya kalo ga slh dari iuran rutin negara2 penghasil emisi.
    Info: cth penerapan CDM dilakukan dgn m’gunakan mesin kogeneration, yg tdk menimbulkan polusi.

  6. saya sepakat sih utk penyelamatan lingkungan

    tp ada yg mungkin aga berbeda pendapat, khususnya bagian terakhir…coba dibca di postingn saya yg ttg “green”, hehe…tp itu cuma sekadar unek2 pendapat pribadi loh hehe 😀

  7. Saya memncoba go green dengan berburu kertas bekas di kantor. Jadi untuk urusan print dokumen yang tidak terlalu penting dan membutuhkan kertas baru, saya melakukannya pada kertas bekas pakai.

    Saya pernah baca, berapa kali luas lapangan bola habis setiap jammnya, hutan habis ditebang, untuk kayu dan kertas.

    Jadi, saya jadi seorang pemungut kertas…

  8. Pingback: Bawa Tas Belanjaan Sendiri, Yuk! « Asepsaiba's Blog

  9. Pingback: Teknologi Mubazir « Blog Asepsaiba

  10. Pingback: Bawa Tas Belanjaan Sendiri, Yuk! « asepsaiba.web.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s