Kirim E-Mail Ya!

"Nanti saya kirim lewat email", kata rekan kerja seruangan saya dalam satu perbincangan lewat telepon. Berkirim pesan lewat email (selanjutnya akan saya sebut menjadi surel alias sural eletronik). Menarik sekali mencermati perkembangan media berkirim pesan ini di kumpeni saya. Saya masih ingat ketika saya menginjakkan kaki di kumpeni ini pada awal 2005, surel masih belum begitu populer dibandingkan dengan faksimili. Meskipun kumpeni sudah menyediakan akun perusahaan, namun tidak dimanfaatkan secara maksimal. Terutama di kalangan bapak-ibu pejabat yang ‘agak telat’ berkenalan dengan dunia internet.

Surel, menurut saya sampai kapanpun tidak akan tergantikan meskipun saat ini dunia internet sedang dikuasai oleh jejaring sosial macak facebook (buku muka?), plurk, twitter. Surel masih tetap merajai. Saya memanfaatkan surel gratis untuk milis dan keperluan yang sifatnya personal. Sedangkan sur perusahaan hanya saya gunakan untk kepeuan kantor.

Apalagi, demam Blackberry yang sedang mewabah yang memanjakan pengguna dalam hal push mail dimanfaatkan oleh beberapa kumpeni untuk urusan pekerjaan. Salah satu ‘korbannya’ kumpeni tempat saya kerja. Akibatnya, sudah sangat lazim ketika surel begitu cepat populer. Ada kejadian lucu ketika direksi menyentil karyawan untuk membiasalan menggunakan surek, "Kalian seharusnya malu sama Pak A, beliau itu tinggal pensiunnya saya, tapi beliau sudah terbiasa dengan surel".

Kelemahan surel perusahaan hanya satu: kuotanya dibatasi. Ini juga yang membuat beberapa rekan saya lebih memilih tetap berkirim surel dengan yang gratisan macam yahoo atau gmail. Karena, mau tidak mau harus rajin untuk menghapus inbox agar tidak terjadi penolakan surel akibat inbox penuh. Tapi, ini sebetulnya bisa disiasati dengan rajin-rajin mem-back up inbox di fasilitas outlook.

Saya yakin 1000%, bahwa semua orang yang pernah bersentuhan dengan internet pasti memiliki minimal sebuah akun surel. Untuk mendaftar di jejaring sosial, pasti butuh akum surel, bukan?

Jadi, kirim surel ya…

*Dikirim dari hape lewat fasilitas posting blog lewat surel yang disedialan wordpress. Duduk ‘ngampar’ beralas koran di KRL Pakuan, menuju pulang…

Advertisements

15 thoughts on “Kirim E-Mail Ya!

  1. Iya, nanti saya kirimi surel.
    Saya pun demikian dengan teman yang duduknya tidak lebih dari 1 meter jaraknya dengan saya. Hihihi… Sekaligus buat nyimpen file dan bukti kalo udah kerja, soalnya.

  2. hihihi…sy malah punya 8, 1 yang kubakar kemarin… pertama kenal surel mikirnya lama banget..apaan tuuh surel. kuartikan sndiri dng istilah surat elektronik… weleh, tnyata bentuk indon bakunya dr email yaaa…

  3. (maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
    Surel salah satu cara kita untuk peduli sama lingkungan. Dengan surel paling gak kita bisa menghemat konsumsi kertas. Ini secara gak langsung juga akan mengurangi pembabatan hutan lantaran kertas emang berbahan baku kayu dari hutan.
    Go green!!

  4. @dian: setali tiga uang juga sama sy…. 🙂
    @sunflo: sy juga taunya dari koran mbak, udah lazim pake istilah surel dibandingkan email. seperti ‘taut’ atau ‘unduh’.
    @alam: pemikiran yang brilian! Go Green Go!

  5. Sorry, ini satria, pendatang baru didunia surel yg belum kenal arah & tujuan, untuk itu tolongin dong gimana cara ber’surel’ ( mengirim & menerima ). Kutunggu penjelasannya yach, atur nuhun…

  6. Pingback: Tulisan Sederhana « Blog Asepsaiba

  7. Cara baru menanam pisang
    Setelah merasa cukup puas bermain air, Bahuang mengangkat potongan pohon pisang bagiannya dari sungai, langsung dibawa masuk ke dalam rumahnya.
    – Lho, mengapa dibawa ke dalam rumah? Orang menanam pisang itu di kebun Uang, bukan di dalam rumah. – tegur Kelep.
    – Ah, kamu saja yang belum tahu. – kata Bahuang.
    Sekarang ada cara baru menanam pisang supaya cepat berbuah. –
    – Cara baru bagaimana? – Kelep jadi penasaran.
    – Ditanam diatas dapuhan. –
    Kalau masyarakat di perkotaan akhir-akhir ini sedang ribut membicarakan program konversi energi dari kompor minyak tanah menjadi kompor gas, masyarakat di negeri Kelep dan Bahuang masih ketinggalan satu langkah di belakang. Mereka masih menggunakan ’dapuhan’, yaitu tungku tempat memasak berupa timbunan tanah yang dibuat di dalam rumah, berukuran lebih kurang 2 meter kali 4 meter dan menggunakan sumber energi dari kayu bakar.
    – Dasar otakmu layau , – kata Kelep kelepasan omong. – Aturan dari mana lagi itu? –
    – Astaga, rupanya kamu benar-benar belum tahu bahwa bercocok tanam di kebun itu sudah ketinggalan jaman. Itu pertanian gaya jadul. –
    – Jadul itu apa sih? – Kelep bertanya dengan lugu.
    – Jadul itu artinya jaman dulu, bego. –
    – Terus, bego itu apaan? –
    – Bego itu ya uong alias blo’on. –
    – Ooooo … begitu. –
    – Sejalan dengan himbauan pemerintah melarang penduduk pedalaman melakukan ladang berpindah dan merambah hutan, ada paradigma baru yang lebih murah dan praktis dalam seni bercocok tanam, yaitu diatas media dapuhan. –
    – Apa keistimewaan tanah dapuhan? –
    – Sejak dahulu orang tahu bahwa tanah bekas bakaran itu lebih subur dari pupuk manapun. –
    – Mengenai hal itu aku sudah paham Uang. Dari jaman dahulu nenek moyang kita selalu membakar ladangnya sebelum menanam, sampai-sampai pemerintah menuduh mereka sebagai biang kerok penyebab kebakaran hutan. Padahal yang membakar hutan itu kan para petani berdasi dari ibukota. –
    – Keunggulan kedua karena kucing suka membuang hajat diatas dapuhan sehingga lebih memperkaya zat-zat yang diperlukan oleh tanaman. Keunggulan yang lain bahwa tanaman diatas dapuhan mudah dirawat karena lokasinya lebih dekat dan setiap saat bisa diawasi sehingga tidak sempat diganggu oleh hama. –
    – Oooo … – kata Kelep, walau sebenarnya ia tetap belum mengerti dengan jalan pikiran Bahuang. Bagaimana mungkin orang dapat bercocok-tanam diatas dapuhan, di dekat tungku perapian tempat memasak yang panasnya bisa lebih dari 300 derajat celsius? Mustahil, kata Kelep dalam hati. Benar-benar tidak masuk akal. Tapi biarlah, Bahuang mau menanam pisang dimana saja, mau di atas dapuhan atau diatas dahinya, masa-bodoh. Itu urusan dia sendiri. Kelep akan tetap menanam pisangnya di kebun di samping rumah.

    Setiap pagi, hal pertama yang dilakukan Bahuang begitu ia bangun dari tidur ialah memeriksa tanaman pisangnya di pojok dapuhan. Pada pagi hari pertama dan hari kedua belum tampak adanya perubahan yang signifikan. Pada hari ketiga, daun pisang tampak mulai menguning. Wah, kalau sudah kuning artinya sudah mulai masak, kata Bahuang dalam hati. Dia mengambil daun kuning tersebut dan mencicipinya, tapi koq tidak enak? Phei, ia mengeluarkan lagi dari dalam mulutnya. Mungkin belum masak sempurna, pikirnya. Keesokan harinya daun pisang yang berwarna kuning semakin banyak. Ia mencoba lagi mencicipi seperti kemarin, tapi rasanya belum ada perubahan. Tetap tidak enak. Begitu pula yang terjadi pada hari-hari berikutnya. Setiap hari Bahuang mencicipi daun pisang yang ditanamnya. Setelah daun pisang habis, ia mencoba mencicipi pelepahnya. Setelah pelepah habis, iapun mencoba mencicipi batangnya. Namun rasanya tetap tidak sesuai dengan harapan, yaitu seperti rasa buah pisang. Akhirnya pohon pisang itu habis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s