Solidaritas yang Tulus

Seminggu lalu, ketika saya pulang ke kampung halaman untuk menengok ibu sitri saya yang dirawat di RSUD Indramayu, ada pemandangan menarik perhatian saya. Cekidot!

Apakah itu para pengungsi musibah, atau -maaf- para tunawisma, gelandangan? Kenapa mereka bergerombol membawa berbagai alat tidur hingga peralatan dapur macam termos air panas bahkan ember? Bahkan hingga hanya memakai sarung bertelanjang dada (ups, ini laki-laki loh…).

Bukan, mereka bukan pengusngi musibah atau bahkan gelandangan, kawan. Mereka adalah para keluarga, sahabat, dan tetangga orang yang sedang dirawat inap di kamar-kamar perawatan di RS tersebut. Kebiasaan yang sudah lumrah di daerah kami seperti itu. Jika ada yang sakit da sampai di-opname, maka otomatis akan terbentuk semacam ‘tim sukarelawan’ yang siap membantu dan menemani si pasien di RS. Sudah pasti keluarga pasien ada di situ. Sisanya adalah sahabat dan tetangga. Sukarela mereka bergantian menjaga si pasien. Tikar, bantar, termos air panas, hingga bekal untuk begadang macam kopi dan obat anti nyamuk oles sudah tersanding dengan apik.

Di selasar-selasar kamar perawatan seolah-olah mereka sudah memesan ‘lapak’ itu. Cukup banyak jumlahnya. Mungkin hanya satu pasiennya, tapi yang gantian jaga bisa sampai lima orang. Lengkap dengan membawa anak-anaknya. Dimanapun bisa dijadikan tempat untuk istirahat, bahkan di bawah pohon sekalipun.

Tidak ada yang salah dengan hal ini. Mereka hanya ingin menunjukan rasa solidaritas terhadap keluarga, sahabat, atau tetangganya. Ini adalah bentuk perhatian khas orang kampung macam kami ini. Mampu melawan ketentuan RS sakit yang membatasi waktu kunjungan. Mereka 24 jam penuh akan tetap berada di samping saudaranya yang sakit dengan bergiliran jaga. Mengambil sembarang tempat di luar kamar untuk sejenak beristirahat. Tidak, tidak ada yang salah dengan ini. Justru rasa kekeluargaan ini harus dipupuk jangan sampai tergerus oleh perkembangan zaman yang semakin dipengaruhi budaya asing yang semakin deras saja menggempur bangsa ini. Gotong-royong, teposeliro, atau kata-kata lain yang dulu kita pelajari waktu SD di pelajaran PMP (PPKn) dapat anda saksikan langsung di sini.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan niat mereka. Tapi, yang mungkin perlu diluruskan adalah cara yang mereka lakukan itu. Dengan berjaga 24 jam sehari penuh sebenarnya tidak memberikan ruang istirahat yang cukup bagi si sakit. Jika pun ia buuh bantuan, tentu sudah ada perawat/suster yang menjaganya. Atau dengan membawa bayi yang masih kecil dan rentan sakit ke lingkungan RS, baakan hingga menginap justru mengundang penyakit bagi si bayi. Atau yang paling ekstrim lagi adalah beberapa bapak-bapak dengan bebasnya merokok sembarangan! Di RS yang semestinya harus steril dari asap rokok!

Sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging. Mungkin di daerah lain pun memiliki kebiasaan serupa (kecuali mungkin di RS yang besar). Kebiasaan ini sudah saya temui semenjak saya masih kecil, setiap ada saudara yang sakit dan kami menjunguknya, ya pemandangan seperi itu sudah lumrah dijumpai.

Saya pribadi bangga dengan perilaku saudara sedaerah saya itu. Yang rela melepas waktu senggangnya untuk menjaga saudaranya yang sakit, bahkan hingga begadang. Tapi yang membuat saya miris ya itu tadi, banyak sekali perilaku yang kurang tepat dilakukan di lingkungan RS. Mungkin perlu pendekatan kekeluargaan dari pihak RS untuk memberi pengertian pada mereka. Para pasien butuh istirahat dalam suasana tenang, dan bersih dari asap rokok. Ini memang cukup sulit, tapi tak ada salahnya untuk dicoba, bukan?

Advertisements

59 thoughts on “Solidaritas yang Tulus

  1. di RS besar seperti RS Sardjito juga begitu pak. di sepanjang ruang rawat inap, biasanya penuh sesak dengan keluarga pasien yg ikut ‘nginap’ njagani keluarganya yang diopname. mungkin pengecualian ini ada di rumah sakit-rumahsakit swasta yang konon orang-orang yg datang ‘beruang’ semua hehe

    • Iya, di Sardjito juga sering tampak pemandangan walau tidak sampai betebaran begitu, tapi kurang lebih serupa. Kadang malah saat jenguk bisa turun dari truk…, yang menjenguk satu kampung.

      Kalau dihalangi tidak tega, tapi kalau dibiarkan ya itu ada konsekuensinya.

      • Betul pak, gak tega ya kalo mesti ‘mengusir’ mereka.. Itu kan hak mereka juga untuk menunjukan perhatiannya.. Tapi konsekuensi itu juga harus jadi perhatian loh…

      • kepeduliannya sih emang bagus, tapi kalo dengan cara seperti itu…apa ya, kesannya seperti piknik…. apalagi sampe bawa balita segala… yang ada sepulangnya dari situ malah membawa penyakit. bukan begitu kang?

  2. Benar Kang…Niat mereka tidak ada yang salah namun benar juga apa yang Kang Asep bilang, cara mereka mungkin perlu diperbaiki agar bisa memberikan ruang nyaman untuk semua nya bukan ? 😀

    salam hangat

    • @Bee’J: Iya bang.. Miris juga sih melihatnya.. Semoga ini bisa jadi perhatian bagi petugas di RS-RS itu ya..

      @Hariez: Correct mas, tapi mungkin pendekatannya kekluargaan saja ya.. Biasanya di sat2 itu butuh ketenangan hati.

  3. biasanya pemandangan ini ditemukan pada rumah sakit umum dan tentunya dihimbau kepada pengunjung untuk saling menjaga kebersihan. lingkungan bersih mempengaruhi kesehatan

  4. salut dengan rasa solidaritas mereka, tp kasian jg ngeliatnya..seperti gak punya rumah 🙂

    hehe..semoga yang sakit2 cepet sembuh,

  5. Iya…rata-rata kayak gitu ya kang…
    walaupun sebenernya kan ada suster ya…
    jadi ya gak perlu 24 jam juga…
    Malah jadi bikin sempit aja….

    kecualiiiii….
    aku pernah tuuuh nongkrong di RS 3 hari 4 malem nonstop…
    soalnya anak ku yang waktu itu baru 2 tahun harus dirawat…
    nah kalo itu mah…emang harus dijagain emak nya lah…

    edaaaannn gila cape pisan…
    pulang pulang malahan aku yang tumbeng…hihihi…

    • Samma, saia jg pernah nungguin anak sy yg dirawat ketika umur 2 bulan.. Tapi nunggunya jg di kamer sendiri, jadi gak ngrepotin orang ya mbak..

  6. Semakin jelas dan pasti bahwa ‘sehat itu mahal …
    tidaklah salah ada yg berkata : “kalau sakit satu anggota keluarga, akan sakit seisi rumah” … 😦

  7. bener, kebiasaan seperti itu juga saya temui di RS daerah Solo tempat saya tinggal. tapi gak munafik, kalau saudara saya ada yg sakit, saya juga pasti ikut menemani..bahkan sampai bermalam.

    …bukan sekedar solider, tapi rasa sayang ini menggerakkan untuk ikut menemani rasa sakitnya…

    haha..

    regards

  8. ya kang asep…itulah kenyataan dari keeratan-kekerabatan sosial yg tinggi khususnya dari kalangan warga perdesaan…disitu ada rasa simpati besar untuk menghibur sang pasien….begitu pula kalau ada warga atau kerabat yg akan munggah haji…calon hajinya cuma seorang tetapi yg mengantar dengan jlh khalayak yg menggunakan tiga mobil bis…yg menarik adalah semakin dekat ke daerah perkotaan…semakin menurun derajat kekerabatan sosial tsb …artinya ada nilai-nilai modal sosial yg mengecil…so biarkanlah sistem nilai kebersamaan sosial di daerah perdesaan tsb seperti itu…itu merupakan aset sosio-budaya asli…

  9. menarik sekali ya, saya jadi ingat saat kecil dan mengalami hal serupa di RS “nun jauh disana”. rasa kebersamaan yg tinggi, tapi juga dapat mengganggu pasien yg perlu ketenangan 🙂

  10. @indra: terusterang saya juga sama kang, tapi sebisa mungkin sy tdk ganggu pasien dan pasien lain, dengan tdk berisik dan mengingatkan sodara jika mereka merokok..

    @pak sjafrie: setuju pak, saya -yg jg prnh tinggal di pedesaan- bersykur rasa kekeluargaan itu msh ada dan terus terpupuk. Sebenarnya poin utama tulisan saya itu. Salut dengan solidaritas mereka. Bayangkan jika semengat kebersamaan sudah hilang (seperti umumnya d perkotaan)…
    Hanya saja caran menunjukan kebersamaan itulah yang mungkin perlu diluruskan…

    @pak htt : mungkin pendeatannya peru dilakukan oleh petugas RS ya pak..

    Kawan2, ada USUL bagaimana cara terbaik untuk berikan pengertian pada mereka?

    • @abid: bener sekali tuh.. Apalagi kl semua sodara kumpul, capek juga ga akan krasa..

      @sunflo: thankx bun… Nah, kalo di Saudi gitu gak ya? 🙂

  11. Lia juga dulu pernah tuh ikutan semalam nginap di samping parkiran (Taman RS) … heheh.. kebetulan masih anak kos trus yg sakit juga teman kos.. gk ada sodara jd kita rame2 jenguk tp berhubung dapat kamar murah jd kita semua nunggu diluar bentang tikar ..tidur2an.. cuma 1 orang yg nunggu didlm…

    emang seru abis.. rasa persaudaraan tumbuh (bhkan masih ingat sampe skrg ) tp alhamdulillah kami2 gk bising2 n makan tetap diwarung heheheh…

    kalo ini… lia termasuk salah nggak ya… ?

    maaf…. 😀

    • Ini nanya ke siapa Lia? hehe..:)
      Kalo ‘nurut saya, itu sama kaek jawaban saya atas komennya mas indra di atas.. Asal tidak mengganggu yang lain.. kenapa nggak? Iya kan..

  12. Saat suami dirawat di RS beberapa waktu lalu, saya juga menemukan pemandangan serupa…malah ada seorang ibu yang membawa anak balitanya untuk tidur di selasar rumah sakit…duh, nggak tega banget melihatnya!
    Tapi mungkin karena rumah mereka ada di kota yang berbeda dengan rumah sakit berada, jadilah para penunggu itu harus tinggal disana untuk menemani pasien…
    Himbauan untuk menjaga kebersihan, tidak merokok sembarangan dan membuang sampah pada tempatnya, betul-betul harus digalakkan ya!

    • Tapi akhirnya saya kok pesimis ya kita bisa menguranginya, karena melihat tahun ke tahun hal ini seperti sudah menjadi sesuatu yang dilumrahkan oleh pihak RS… 😦

    • @aura & nuansapena: the same blogger, aren’t you? 🙂
      Mungkin tidak hanya menyalahkan pihak pendamping (keluarga) ya? Mungkin itu maksudnya. Pihak RS-nya pun mesti dibenahi dari sisi pelayanannya.

  13. Kang Asep, saya mau tanya, situs apa yang paling tepat untuk melayangkan keluhan jalan yang rusak di wilayah Indramayu??
    Jalan-jalan di tempat saya tugas (Kec. Kroya) keadaannya rusak parah (seperti kolam ikan :-D) bahkan jalan dari arah bantarhuni (jalan Lajem) ke Desa Sukaslamet Kec. Kroya belum diaspal sama sekali, baru disirtu aja dan itupun sumbangan dari ponpes Al-Zaitun. Apalagi sekarang musim hujan, ampuuuun deh kondisi jalannya.

    • @kang Ferdi: Nais idea tuh.. 10 ranjang buat yang nungguin… 😀

      Soal keluhan, sejauh yang saya tahu sih, efektifitas komunikasi antara warga dan pemerintah melalui ranah dunia maya belum begitu maksimal kang… Di situs resmi Pemkab Indramayu (http://www.indramayukab.go.id) pun hanya berfungsi satu arah saja, tidak terdapat fasilitas untuk -misal- surat pembaca… Meski ada pranala “Guestbook”, tapi tampaknya sangat tidak maksimal…

      Di situs koran online wilayah cirebon dsk (http://www.radarcirebon.com) sama seperti itu.. Hanya sebagai media pemberita saja.. Belum untuk komunikasi dua arah…

      Belum terbentuk budaya “Citizen Journalism”…. 🙂

  14. Kayaknya memang sudah menjadi tipikal rumah sakit dan masyarakat kebanyakan kita kang, yang menjadi dengan yang sakit, lebih banyak yang jaga.

  15. Mungkin memang orang2 tersebut sudah terbiasa seperti itu? Apa mungkin karena tidak ada aturan tegas yang melarang merokok, atau melarang 24 jam menetap di situ?
    Apapun itu, memang tampaknya merugikan si pasien… Yang maunya menghirup udara bersih, eh malah dihadiahi asap rokok… 😦

  16. subhanallah.. niat yg benar2 tulus.. salut.. semoga makin banyak orng2 yg seperti itu yg rela menjaga orng yg sakit..

    tp ironisnya pemandangan banyak dirumah sakit khususnya di kelas ekonomi.. 😦

  17. Nama saya randy,.saya salah satu mahasiswa S2 di jakarta.”awalnya saya bersinggungan dengan Negara Islam Indonesia (NII) secara tidak sengaja diajak teman sewaktu masih sma dulu,teman saya ingin mengajak bertemu untuk minta di temani dalam berbelanja,ketika itu saya menyanggupi ajakan teman saya itu sebut saja namanya sari, kemudian setelah bertemu kita saling ngobrol,maklumlah teman lama waktu sma saling bertanya kabar lagi sibuk apa skrang,apa aktifitasnya sekarang,dan lain-lain..suatu ketika teman saya yg bernama sari bercerita dia kemaren bertemu dengan teman lamanya sewaktu masih sd yang bernama tika, pertemuan antara tika dan sari berlangsung selama satu hari,maklumlah kata sari teman saya itu dia banyak cerita panjang lebar kuliah dmana,kerja apa,sibuk apa dan lain-lain yang akhirnya suatu ketika teman saya yg bernama sari diajak oleh tika untuk main kerumahnya di daerah depok,kemudian setelah datang kerumah tika,teman saya yang bernama sari itu banyak mendapat cerita-cerita baru yang menarik seperti cerita-cerita mengenai sejarah,perkembangan teknologi yang membuat menarik dari cerita yg dijelaskan oleh tika,semua cerita tersebut di kaitkan dengan kitab suci al-qur’an sungguh menarik untuk disimak oleh teman saya yg bernama sari tersebut..
    Awalnya saya tidak mengenal sama sekali yang bernama tika tersebut, saya dikenalkan oleh sari teman saya waktu sma dulu di sebuah pusat perbelanjaan..”akhirnya saya bertemu dengan tika yang saling berdiskusi berbagai macam masalah dengan diikuti oleh sari teman saya waktu sma dulu..
    Diskusi tersebut memang sedikit menarik,karena saya tipe orang yg suka berdiskusi mengenai perkembangan teknologi,ilmu pengetahuan mengingat saya seorang insinyur yang senang sekali dengan teknologi..berdiskusi tersebut diawali dengan mengaitkan perkembangan ilmu teknologi dengan kitab al-qur’an, seperti contoh penemuan lampu pijar yang ditemukan oleh thomas alpha edhison ternyata sudah ada tertulis di dalam al-qur’an..Hal ini lah yg membuat saya tertarik ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang alqur’an yang berhubungan dengan teknologi..”
    Diskusi tersebut berlangsung panjang lebar, materi yang disampaikan oleh tika dengan pendekatan menggunakan kitab al-qur’an, awalnya saya mengira diskusi ini yang berlangsung hanya seputar ilmu pengetahuan,tapi akhirnya saya dan sari diajak oleh tika bercerita mengenai sejarah tentang kemajuan islam dalam dunia ilmu pengetahuan seperti sejarah ilmuwan2 islam seperti algoritma,ibnu sina, yang pernah ada dalam dunia pengetahuan..
    Cerita tersebut cukup menarik karena kami bertiga saling memberi tanya jawab.”singkat kata cerita tersebut beralih mengenai perkembangan islam pada zaman rosullah saw yang terjadi ketika rosullah hijrah dari mekah ke madinah,yang berada di dalam go’a..cerita tersebut beralih dengan mengilustrasikan indonesia seperti zaman yang ada pada rosullah yakni zaman jahiliyah,banyak terjadi pembunuhan,pemerkosaan,dan perampokan di indonesia mengapa hal ini terjadi.?????
    kata tika bertanya pada saya dan sari..”karena di indonesia ini tidak menggunakan hukum islam,oleh sebab itu kita mesti melakukan perubahan dengan cara hijrah yakni berpindah dari hukum yg berada di indonesia menjadi hukum islam..”selanjutnya saya dan sari di ajak untuk pergi hijrah oleh tika,..awalnya saya tertarik untuk mengikuti,tetapi ada beberapa hal yang membuat saya untuk berpikir lagi karena tika ketika itu mengajak hijrah meminta shodakoh/infak,saya berpikir buat apa uang tersebut.???
    Pertemuan untuk hari ini selesai dulu dilanjutkan besok,karena saya mencoba untuk memikirkan buat apa infak/shodakoh tersebut.”??
    suatu ketika saya di sms lagi oleh teman saya yg bernama sari untuk bertemu tika..”akhirnya saya berniat baik untuk mengikuti memberikan infak 500rbu ajakan tika..”ketika itu saya dan sari dibawa kesuatu tempat dengan mobil sambil mata tertutup,awalnya saya sempat ragu mau ada apa ini.??setalah itu saya, sari, tika, dan salah satu temannya wanita yg membawa mobil tersebut sampai di suatu rumah.di daerah depok,persisnya saya tidak mengetahui dimana alamat rumah tersebut karena dibawa dengan mata tertutup..”di dalam rumah tersebut saya bertemu dengan abi panggilannya,dia bertanya pada saya tujuan apa datang kesini..”disinilah terjadi proses doktrinisasi dengan ayat2 alqur’an, karena saya sudah kepalang tanggung yach saya ikuti saya penjelasan yg disampaikan oleh abi tersebut..”esok harinya saya diharuskan untuk berangkat ke jakarta untuk melakukah proses MH=musahadatul hijrah.”sambil membawa infak lagi,saya bertanya dalam hati buat apa infak tersebut.???akhirnya saya ikuti saja dulu sejauh mana proses itu,sampai melalui hijrah dan proses pembaiatan.”disinilah saya menemukan keganjalan yakni pada ayat-ayat alqur’an terjemahan bahasa indonesia yang berarti agama di ganti menjadi negara..”kok bisa.???dalam hati saya,karena kalau saya lihat terjemahan teks nya yang ada di alqur’an itu berbeda apa yg disampaikan oleh pembaiat tersebut…
    dan satu hal lagi yang membuat saya ragu ketika mau hijrah,yakni dalam masalah mengumpulkan infak dengan cara memberikan informasi bohong ke orang tua seperti merusak laptop teman, menghilangkan handphone teman agar orang tua memberikan uang untuk infak hijrah..”disinilah timbul tanda tanya besar,walaupun alasan dari mereka yg mengatakan digunakan untuk pengembangan pondok pesantren di alzaytun..Kok seperti itu kata saya dalam hati,mengumpulkan dananya ???nabi saja di beri gelar al-amin /orang yang dapat dipercaya kok malahan ngajarin bagaimana cara berbohong..”disinilah saya mulai berpikir kritis untuk tidak mengikuti lagi kegiatan2 mereka setelah hijrah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s