Teknologi Mubazir

Teknologi, tentunya dikembangkan untuk memudahkan kegiatan kita, bukan? Teknologi tak ada batasnya. There is no limit for technology! Manusia bisa berkhayal tentang apapun, dan teknologi hampir selalu dapat memanjakan akal manusia.

Saya ambil contoh sederhana. Dulu, untuk mengambil uang di tabungannya, orang harus rela mengantri di teller bank bersangkutan. Dengan teknologi, Simjian (sang penemu) membuat semuanya menjadi lebih mudah. Ia menemukan ATM (Automatic Teller Machine yang di-Indonesiakan menjadi Anjungan Tunai Mandiri). Perkembangan teknologi ATM membuat mesin ini semakin memanjakan nasabah untuk melakukan berbagai transaksi.

Cukup satu hal saja saya mencontohkan betapa bergunanya teknologi, karena anda pasti dapat dengan mudah menyebut kehebatan perkembangan teknologi. Segala segi kehidupan manusia di zaman sekarang tak bisa lepas dari teknologi. Berkembang pesat dari waktu ke waktu.

Tulisan ini tidak membahas tentang pemahaman teknologi. Tapi hanya unek-unek saya melihat pemanfaatan kemajuan teknolgi yang belum maksimal di sekitar kita. Terkadang saya sering menemukan di beberapa tempat umum, sarana yang notabene diproduksi lewat olah teknologi dan dibangun untuk memudahkan aktivitas masyarakat malah seolah menjadi barang mubazir dan beberapa malah dibiarkan terbengkalai tak terawat.

Suatu ketika, saya hendak check in untuk penerbangan ke luar kota, terlihat antrian yang cukup panjang di counter check in. Sedangkan waktu keberangkatan pesawat sudah hampir tiba. Beruntung sekali saya sekilas melihat barisan mesin seperti ATM di dekat saya mengantri. Saya dekati, ternyata itu adalah mesin check in otimatis (Self Ceck In). Petugas menuntun saya dengan langkah yang cukup sederhana, dan berhasil. Tanpa menunggu lama saya sudah berhasil check in (mesin ini hanya diperuntukkan bagi calon penumpang tanpa bagasi). Kesan apa yang dapat saya ambil dari pengalaman ini?  Kenapa mesin ini dibiarkan percuma saja? Apakah tidak ada sosialisasi dari petugas bandara? Atau memang para calon penumpang masih ‘tidak sepenuhnya percaya’ dengan alat itu? Saya merasa, investasi yang dihamburkan akan percuma saja jika mesin-mesin itu tidak digunakan secara maksimal. Mesin self check in tersebut bisa jadi akan bernasib sama dengan fasilitas tiket elektronik yang sudah di bangun di stasiun-stasiun KRL di area Jabodetabek. Fasilitas telah dibangun, namun dibiarkan percuma. Mungkin banyak alasan yang menjadi kendala penerapan teknologi tiket elektronik tersebut. Sekali lagi, investasi akan menjadi percuma.

Lain kasus lagi, di dekat kantor saya, ada papan elektronik besar penunjuk tingkat polusi udara lengkap dengan warna-warni yang menunjukan skala polusinya. Namun, papan itu sekarang hanya sebagai penghias saja sepertinya. Fungsinya sudah lama tak terlihat lagi. Mati, tanpa lampu penunjuk tingkat kepekatan polusi lagi. Ini jadi percuma juga, bukan?

Akankah kita terus membuang uang percuma demi sesuatu yang mubazir?  Pemanfaatan kemajuan teknologi memang penting agar bangsa kita tidak tertinggal jauh, jangan hanya jalan di tempat. Tapi tampaknya perlu kearifan untuk jangan solah ‘memaksakan’ teknologi di saat ‘banyak’ dari kita yang belum siap. Siap dalam segala hal tentunya. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat penting dilakukan agar penerapan teknologi baru lebih maksimal. Selain itu, prasarana yang menunjangnya pun harus mumpunni, artinya tidak hanya di awal-awal saja memberi dukungan penuh, tapi harus tetap kontinyu. Ini mungkin terjadi pada papan indikator tingkat polusi yang saya sebut di atas. Bisa jadi karena ada komponen yang rusak, namun sulit bahkan tidak memiliki suku cadangnya, maka kerusakan itu dibiarkan begitu saja.

Ini jadi pekerjaan kita bersama. Bagi anda yang merasa melek teknologi, wajib menularkan pengetahuan anda kepada kawan-kawan anda yang gaptek alias gagap teknologi. Sehingga kemubaziran -pemaksaan- teknologi dapat dikurangi bahkan harus dihilangkan. Buktikan kalau Indonesia adalah bangsa yang up to date!

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini dan dari sini.

Advertisements

37 thoughts on “Teknologi Mubazir

  1. Mohon maaf… Ini sebenarnya masih DRAFT.. Tapi tak tahu kenap kok sudah publish ya.. ;?
    Mungkin tak sengaja saya klik..
    Saya ‘draft’-kan dulu ya… 🙂

  2. Pemanfaatan teknologi di Indonesia sepertinya tidak didahului dengan planning yang matang dan tidak diimbangi dengan sustainability pada bidang lainnya, sehingga antara satu dengan lainnya seolah berdiri sendiri (duh sok ilmiah banget ya saya :-D).
    Wah header nya baru ya kang, mencerminkan yang punya blog nih sebagai maniak kopi 😀

  3. @alamendah: pasti lagi nyimak ‘perang’ Koja ya.. 🙂 Situ kali yang rank IM-nya main wuokeh..

    @ferdi: yup sepakat. terkadang masing2 institusi bekerja dengan egonya masing2, sehingga tidak terintegras satu dengan lainnya…
    Ah, saya mah emang suka gontaganti header aja kang.. Itu bukan kopi loh, itu teh manis celup. Cangkirnya merah-putih ky bendera kita loh.. 🙂

  4. lam kenal smuanya,, menurut sy masalahnya adalah keseimbangan, antara gaya hidup, prestis, pengetahuan dan kebutuhan. byk orng pake handphone canggih dan mahal tp fitur yg dia pake cma sms dan tlp aja, atw laptop super padahal cma dipake buat nayangin power point copy-an, alasan ke 2, spakat ma isnuansa..coba za cium barang2 tsb.. pasti baunya,, bau kepentingan..

  5. seringnya teknologi yg diadakan tdk dibarengi dgn sosisalisasi yg cukup pd masyarakat, dan ada juga kemungkinan lain, yaitu memaksakan utk menghabiskan anggaran yg ada,
    salam

    • Tampaknya rata-rata dari kita mefhum akan ‘kebiasaan’ ini ya bun.. Yuk mari, kita pakai fasilitas2 yang canggih itu semaksimal mungkin.. Jangan sampai jadi barang mubazir..

  6. ada banyak kemungkinan seh kenapa teknologi canggih malah dihindari.
    Pertama, ada kemungkinan error. Bayangin ngambil duit 3 juta di ATM udah ke debet duit engga keluar. Ngurusnya hampir mustahil (engga ada yang mau disalahin donk!). Lebih aman ngantri, kalo duit yang diterima kurang, tinggal berantem sama kasirnya.
    Kedua terbuai bujukan sales, sebenernya blom perlu tapi ko kata-kata salesnya meyakinkan banget, ehhmm …
    Ketiga, ada celah buat nyari duit. Perusahaan atau negara boleh rugi, yang penting kita untung (* waks…, tega! *)

    • Bisa jadi, karena terbiasa dengan yang ‘konvensional’ contoh lain misalnya teknologi listrik prabayar (saya pakai di rumah). Itu yang jual voucher listriknya masih sangat jarang, baru ada di loket PLN dan kantor pos saja..

      Mestinya tunggu hingga semua siap dulu, baru diaplikasikan.

  7. mungkin sosialisasi pada masyarakat kurang ya a’… atau masih sedikit masyarakat yang melek teknologi?? kurasa ga juga kan? udah banyak yang pinter2 kok… ^^

  8. yup… proses alih teknologi yang dimulai dari ranah yang paling bawah dulu… ngasih tau temennya yang belum bisa, gtu kan kang… meski kecil perannya namun sudah menunjukkan partisipasinya… heheehee…

  9. Tidak bisa dipungkiri Kang, dimana-mana dinegeri ini pemubaziran tehnologi tidak kalah dengan korupsi banyaknnya.
    Salah satu penyebabn ya mungkin selain sosialisasi yang kurang juga masalah kepercayaan kang. Emang banyak yang mau percaya sama mesin check in otomatis ? kayaknya masih sedikit.

    • Iya pak.. Kadang saya liat, pemaksaan penerapan teknologi itu hanya ingin mendapat pengekuan dari khalayak.. Oo.. PT Anu sudah semakin canggih nih.. Tapi saat penggunaannya kita2 malah dicuekin, ya jadunya mubazir deh..

  10. yang lebih faktanya lagi..sudah adanya teknologi dan education masyarakat yang kurang seimbang,,ini yang mengaki8batkan mubazir 😀

    salam adem ayem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s