Kampanye Cinta Bumi, Jangan Cuma Buat Gaya-gayaan

Update…. (22/04)

Hari ini, setiap tanggal 22 April adalah hari Bumi loh… Semoga even -yang belum dikenal luas di masyarakat- ini bisa memberi kontribusi terhadap kesadaran kita untuk lebih mencintai bumi ya… Selamat Hari Bumi!

Sekarang ini, tema Go Green seperti sudah menjadi sesuatu yang populer. Lihat saja, sudah banyak bermunculan berbagai komunitas atau organisasi yang berkecimpung dalam urusan ‘penyelamatan bumi’ itu. Ini saya temui saat saya berkesempatan datang di acara KumKum hari Sabtu kemarin. Di sepanjang selasar museum Bank Mandiri berjejer gerai-gerai komunitas pecinta bumi.

Berbagai tema model dukungan penyelamatan bumi tersedia di situ. Dari mulai komunitas Bike to Work (atau Bike for Work ya?) hingga komunitas Masyarakat Bebas Bising (saya suka yang satu ini). Kaos, pin, stiker, hingga kantong kresek menjadi sarana promosi bagi tujuan gerakan-gerakan itu agar dikenal masyarakat.

Tapi, toh saya kok tidak melihatnya seperti itu ya? Yang saya rasakan, gerakan-gerakan semacam itu kok lahir seperti mengikuti trend saja. (mohon maaf kepada kawan-kawan yang berpartispasi ya…). Ini pendapat pribadi saya saja. Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu? Karena saya melihat euforia ‘cinta bumi‘ ini hanya semarak lewat simbol-simbol saja. Lewat penyebaran pin, kaos, stiker dan semacamnya. Kalau di tasnya ada pin ‘Save The Earth’ jadi keren, atau kalau pakai kaos ‘Stop Global Warming’ jadi bisa disebut ‘gaul’. Ini hanya sikap skeptis saya saja mungkin… Yah, semoga saja bukan hanya secara simbolik semangat ‘Go Green’ itu. Tapi benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi kebiasaan.

Jangan cuma jadi bahan untuk keren-kerenan. Jangan karna tak mau disebut ‘kurang gaul’, jadi ikut-ikutan gerakan-gerakan cinta bumi. Lakukan saj hal kecil yang bermafaat untuk menyelamatkan bumi kita. Lakukan dari diri sendiri saja. Contoh kecil: hemat listrik, jalan kaki saja kalau dekat, pakai tas belanjaan sendiri, dan sebagainya.

Tapi ada lagi yang kurang. Promosi dari gerakan-gerakan tersebut hanya hanya menyentuh kalangan perkotaan saja, dan mungkin hanya menyentuh -maaf- kalangan berpendidikan saja. Lihat saja, kegiatan-kegiatan semacam ini hanya marak di daerah perkotaan saja, dan biasanya yang meramaikan hanya kalangan sekolah, mahasiswa atau orang perkantoran saja.

Tapi contohnya, di kampung halaman saya saja, misal di pasar tradisionalnya, penggunaan kantong kresek sudah sedemikian banyaknya, warga membuang sampah sembarangan di kali-kali desa, penggunaan zat kimia untuk mencari ikan di sungai, dan sebagianya Maksud saya begini, sebaiknya kampanye “Cinta Bumi” itu sampaikanlah juga hingga ke pelosok daerah. Ajak saudara-saudara kita yang di daerah-daerah untuk turut berpartispasi dalam kegiatan itu. Ah, mungkin kawan-kawan sudah melakukannya barangkali? Hanya saya saja yang mungkin kurang informasi. Semoga demikian. πŸ˜€

Just my opinion…

Advertisements

39 thoughts on “Kampanye Cinta Bumi, Jangan Cuma Buat Gaya-gayaan

  1. Di tempat saya, kantong kresek juga lebih populer ketimbang bawa tas belanja sendiri.
    Padahal kampanye cinta lingkungan juga rame-ramean!

    Jadi bingung!

  2. betul sekali itu bang πŸ™‚

    sai yg tinggal di desa juga melihat hal itu terjadi, tapi saat memperingatkan bahwa jangan menggunakan plastik hitam, eh malah dikasih julukan sok…

    yah, moga bumi kita bisa bernapas lega suatu hari nanti πŸ˜‰

  3. sakjane tanpa kampanye2an sunflo dah cinta ma bumi o’ kang… apalagi kalau ada di tanah air… woooowww… sunflo paling getol tuk menghijaukan rumah… ngoprak-oprak murid2 tuk buang sampah pada tempatnya… hehehe… semoga ada tindakan nyatanya yaaa… tak cuma kampanye ajah… meski kecil, mulailah partisipasi dari diri dan lingkungan keluarga kita… πŸ™‚

  4. saya cenderung membenahi diri sendiri dulu deh, artinya lum mau ikut2an klo lum bisa menjaga hijaunya rumah, kamar dll πŸ˜€

  5. Mungkin yang lebih penting tidakan real ya kang? sama seperti halnya pecinta alam, berkemah ke hutan2 dan terkadang mereka enggak menunjukkan sikap mencintai alam.

  6. @wandhi: kalo dah malem bahasanya lain ya.. πŸ˜€
    @arif: kasih contoh dari diri sendiri dulu saja, di lingkungan terdekat.. kamar sendiri misalnya.. πŸ™‚
    @nanang: yup! tindakan real.. itu kampanye paling efektif loh…
    @ekopras: baru keudian kita ajak yang lain… πŸ™‚

  7. Kang Aseb,
    Disini tidak ada gaungnya kang. Soalnya tiap hari sudah cinta sama bumi dan isinya (*halaaaaah*).

    Kantong kresek lebih praktis dibandingkan dengan menggunakan daun pisang atau daun jambu monyet πŸ˜€

  8. tetapi memang rata2 polusi dan pencemaran lingkungan dari kota2 industri
    klo di kampung mungkin mash ada pohon2 yang bisa menyaring udara kotor

    tp ya itu, klo pohon nya d tebangin juga jadi banyak bencana pada akhirnya..:(

    nice thread kang :top:

  9. Yap, yang paling ngeri memang penggunaan plastik dalam semua hal di kehidupan kita sehari-hari. Makan bakso dibawa pulang, tempatnya plastik. Beli apapun sekarang plastik wadahnya. Padalah plastik nggak terurai, hikshiks.

    Mana nih foto-foto Kum-kumnya, Kang?

    • Rata-rata dari kita menyadari hal itu kan mbak.. Termasuk saya.. Tapi jujur saja, sangat sulit meninggalkan kebiasaan itu.. Tapi, saya bersyukur keinginan untuk mengurangi penggunaan plastik selalu ada, saya selalu bawa bag sendiri kalo belanja.. πŸ˜€

      Ya itu, cuman satu fotonya.. πŸ˜€

  10. kembali kepada hati masing2 ya Kang
    tapi saya optimis
    jika kampanye ini dilakukan secara menyeluruh
    didukung seluruh elemen masyarakat
    realisasinya pasti akan nyata
    masyarakat kita pada dasarnya bisa diajak memahami
    apalagi saudara2 kita yg di pedesaan

    πŸ™‚

  11. Saking parahnya sehingga tak bisa dihentikan lagi, tapi setidaknya kita sendiri pada masing-masing keseharian bisa berkontribusi ala kadarnya untuk bumi karena rasa cinta pada rumah tempat tinggal kita, bukan karena ikutan trend…

  12. Orang zaman sekarang kan rata2 maunya yang simple, praktis, dan bergengsi, atau mungkin sudah zamannya kali mang. Mengenei polusi di kota-kota besarlah yang paling tercemar. Kalau di kampung saya mah gak ada polusi wong tempat saya di pinggir hutan.

    • Tapi polusi kan bukan hanya dalam bentuk asap kendaraan atau industri saya kang… Sampah yang menggunung atau memenuhi sungai juga polusi kan? πŸ™‚

  13. Hehhhe, bahkan toko swalayan dan mall pun sekarang berlomba-lomba bikin tas karung yang dibisniskan. Masalahnya tas kresek tidak dikurangi, jadi ya pelanggan enggan keluar biaya tambahan untuk beli tas.
    Kenapa tidak nyontek aturan di China ya, pelanggan warung yang tidak terbiasa makan dengan sendok yang sedang digalakkan penggunaannya demi memelihara eksistensi pohon bambu, mereka harus membawa sumpit sendiri dari rumah.
    Bila tidak ingin beli tas belanja, ya harus bawa tas sendiri dari rumah / kardus hehehhe

    Salam bentoelisan

    Mas Ben

    http://bentoelisan.wordpress.com [bila http://bentoelisan.blog.com sulit diakses]

  14. Yup, sepakat. Perubahan perlu dilakukan, dan bukan sekedar keren-kerenan. yang penting aplikasi…

    Tapi semuanya berawal dari pewacanaan dan semuanya juga tidak instant.

    Kapan ya daerah pelosok juga kenal dengan earth day, climate changes issue, bike for work, go green, dll… ❓ *jadi mikir

  15. Oh….pas acara kumkum itu banyak yang bagi-bagi kantong kresek ya kang Asep? Sayang sekali ya kalau begitu….:-(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s