Ujian Nasional, Ujian yang Aneh

Hari Senin (26/04) kemarin, hasil Ujian Nasional diumumkan serempak secara nasional. Ujian Nasional merupakan syarat kelulusan untuk siswa tingkat akhir. Tingkat sekolah yang paling disorot pada setiap pelaksanaan ujian nasional adalah tingkat SMU/SMK/MA. Tahun ini, menurut data yang dikutip dari kompas.com, terdapat 267 SMA/MA/SMK yang terdiri atas 51 sekolah negeri dan 216 sekolah swasta, 100 persen siswanya tidak lulus ujian nasional 2010. Jumlah siswa yang tak lulus dan harus mengikuti UN ulang itu mencapai 7.648 orang. UN 2010 diikuti 16.467 SMA/MA/SMK di seluruh Tanah Air. Sebaliknya, terdapat 5.795 sekolah (35,17 persen) yang semua siswanya (418.855) lulus.

Pada perjalanannya, tidak sedikit pro dan kontra terhadap penyelenggaraan ujian nasional di Indonesia. Saya termasuk dalam kalangan yang kontra itu. Kenapa? Karena hak untuk menentukan seorang siswa lulus dan tidak lulus bukan hanya ditentukan oleh lembar-lembar soal dalam UN saja. Seharusnya, diperhatikan juga perjalanan siswa tersebut selama bersekolah. Lihat nilai yang dicapai pada setiap tingkatnya. Dan yang lebih penting lagi, peran guru tidak boleh dilupakan. Guru lah yang mengetahui perkembangan anak didiknya.

Peringkat nilai seharusnya sudah tidak lagi menjadi penanda prestasi seorang siswa. Namun lebih luas dari itu. Bisa saja secara akademik sang siswa memang tidak cukup bagus, tetapi mungkin dalam minat yang lain ia menguasai. Musik, olahraga, sains, puisi, seni tari dan sebagainya.

Tahun lalu saya pernah membaca berita yang menyebutkan bahwa seorang siswa yang menjuarai olimpiade fisika tingkat internasional tidak lulus karena mata pelajran lain yang tidak ia kuasai. Sehingga secara total nilainya tidak cukup untuk meluluskannya. Ini justru akan menenggelamkan prestasinya.

Jangan lupakan juga tentang attitude. Tingkah laku dan akhlak siswa mestinya jadi bahan pertimbangan juga. Jangan sampai meluluskan siswa pintar tapi secara tingkah laku tidak baik.

Selain itu, tingkat kualitas pendidikan tidak merata pada setiap daerah di Indonesia. Sekolah-sekolah di wilayah perkotaan umumnya memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan di daerah. Maka, sungguh tidak adil jika soal-soal ujian yang diberikan memiliki bobot

Ada yang menggelikan dari pengumuman ujian nasional kali ini. Dari sekian mata pelajaran yang diujikan, ternyata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi momok penyebab banyaknya siswa yang tidak lulus. Bisa jadi karena karena Bahasa Indonesia adalah bahasa sendiri, banyak siswa yang lebih mengutamakan Bahasa Inggris atau pelajaran Matematika untuk dipelajari lebih intensif. Rendahnya nilai UN bahasa bisa jadi merupakan indikasi menurunnya kepedulian pelajar terhadap bahasa. Menurunnya perhatian ini juga terlihat dari maraknya penggunaan bahasa asing dalam percakapan generasi muda saat ini. Bahasa mereka semakin campur-campur.

Bagi siswa yang tidak lulus diberi kesempatan lagi untuk mengikuti ujian susulan yang akan diselenggarakan tanggal 10-14 Mei nanti. Semoga mereka mendapat hasil yang diharapkan. Menurut informasi, ujian susulan ini memiliki bobot yang sama dengan UN reguler. Tapi tetap saja, ini memberi kredit negatif bagi sisa bersangkutan, bukan?

Tak salah bukan, jika saya katakan sekali lagi,ย Ujian Nasional, ujian yang aneh. Aneh, karena terlalu dipaksakan. Sistem pendidikan kita belum siap secara menyeluruh untuk hal ini. Apakah harus menunggu lebih banyak korban lagi untuk mengingatkan sang pengambil kebijakan terkait UN ini? Ayolah, jangan berpikiran dangkal seperti itu.

Untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik!

Advertisements

37 thoughts on “Ujian Nasional, Ujian yang Aneh

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Saya juga sempat tercengang ketika mengetahui bahwa banyak yang ‘tersungkur’ dihadapan bahasa Indonesia.

  2. (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Apa lantaran dianggap mudah dan disepelekan ketimbang mapel lainnya. Ataukan lantaran kebiasaan kita yang enggan menggun akan bahasa Indonsia yang baik dan benar?

    • Bisa jadi seperti itu kang… Ada anggapan dengan menggunakan Bahas Indonesia baku, maka seseorang dianggap ‘kuno’, jadul dan ketinggalan zaman…

      Saya sendiri selalu berusaha menggunakan bahasa yang ‘benar’ dalam setiap tulisan saya..

  3. Kang aseeeep alhamdulillah Angga lulus nilainya 25,60 dari 3 pelajaran hehehe ๐Ÿ™‚
    tul banget tuh bahasa indonesia susah, bukan karena mentingin mate atau english, tp emang susah banget karena itu udah masuk sastra indonesia, kaya pake penggunaaan majas-majas gt -___-
    Pokoknya un ga usah ada deh susah tau soalnya hahahaha

    • Wuah… Mntabs.. Bangga deh saya.. ๐Ÿ˜€
      Waktu di padepokan Ciheuleut dulu, pelajaran B.Indonesia yang ngajar Bu Yeni (bukan bu Yani) jadi pelajaran ‘menakutkan’ nomer 2 setelah fisika… ๐Ÿ™‚

      • bu yeni siapa? kalo bu Yanny bahasa Indonesia sih emang tegas kang, tapi kalo udah kenal mah so swit banget hiks hiks :’D..

        fisika? no comment :p

  4. dilema memang dunia pendidikan kita satu sisi ingin memperbaiki kualitas, yang tentunya harus melewati sebuah seleksi yang tidak mudah, dan satu sisi ingin kemudahan, karena sumber daya yg masih yg belum siap…

    jadi pusing juga, meskipun skr sudah tidak perlu ikut ujian2 lagi :mrgreen:

    kita harus optimis!! bangkitlah pendidikan Indonesia!! ๐Ÿ˜€

  5. Memang aneh… ๐Ÿ˜ฆ
    Tapi ikuti saja. Toh yang lulus juga banyak, yang tak lulus sedikit. Hargai juga yang telah berhasil. ๐Ÿ™‚

  6. Wah jadi inget nilai UAN SMA. Kalau sistem yg baru ini sudah diterapkan pada saat saya lulus, saya kebagian ujian susulan nih. Gara2 matematika yg susahnya amit2… wakakak!!

    *elus2 dagu*

  7. iya, setuju! kepintaran tidak seharusnya diukur hanya dari sebatas nilai… karena multiple intelligence setiap anak kan beda-beda… tergantung pada ketertarikan dan lingkungannya…
    Belum lagi faktor psikologis dari siswa yang dinyatakan tidak lulus tersebut, kalo ga kuat2 kejiwaannya dan faktor lingkungan yang tidak mendiskreditkan dia, hal ini kan bisa bikin dia minder… kalo udah minder, gimana mau maju coba?!

  8. tadi di AKI tv one, sosiolog imam prasojo bertanya pada seorg pejabat diknas..”seorg siswa telah ditrima di sebuah PTN, berarti PTN tsb mengakui kepandaiannya. Tapi dia tidak lulus UN. nah, yg salah yg mana? PTN nya salah?ato UN nya tdk kredibel?”..sang pejabat diknas, kebingungan menjawab analogi sederhana tersebut

  9. Kayaknya ini salah satu peninggalan Kalla (Wapres)
    Untuk standarisasi kelulusan
    Memang result oriented, dan menyebabkan anak2 Indonesia sangat berpikir pragmatis nantinya
    Ketika jadi mahasiswa pikirannya hanya dapet ip tinggi dan lulus cepat
    bukan mendalami secara detail tiap kuliah..

    begitu pemikiran saya

  10. kok makin parah ya pemerintah ini.
    Depdiknas makin gak bisa menjalankan fungsinya…
    saya menilai Depdiknas salah sasaran… salah target n prosedur…
    sudah gak bisa dinalar pake logika kenapa bisa gituuh

  11. Ya, lumayan aneh.
    Saya kira bukan entity ujiannya yang membuat aneh, tapi bangsa kita yang sedikit aneh ๐Ÿ˜ณ

    Btw, kalo di negara lain emangnya seperti apa ya metode assessment mereka…? apakah ada ujian nasional juga? *jadi penasaran

  12. Tapi kalo dipikir-pikir emang aneh juga ya… :mrgreen:

    Yang paling aneh adalah:

    Saat ini diterapkan standar baku Ujian Nasional (UN) untuk semua SMA di Indonesia, sedangkan pada kenyataannya, fasilitas dan perlengkapan pembelajaran di setiap daerah di Indonesia sangat berbeda. Jelas sistem ini mementingkan prosedur tanpa menilik kondisi sosial geogrfais suatu daerah

    Hah… however, inilah bangsaku

  13. ujian nasional melahirkan kepesimisan pada diriku kang… secara dulu aq menangani ujian ini dan kulihat praktek yang bkin seseg dada ini… ๐Ÿ˜ฆ
    beda banget pas dulu kala saat aq masih berstatus sebagai pelajar… tapi aq masih berharap, semoga praktek yang ada dievaluasi dengan baik sehingga ujian bisa menghasilkan output yg emang bener2 bisa dipertanggungjawabkan

  14. di negara yang aneh begini, banyak hal aneh dianggap lumrah.. semoga indonesia berubah ke arah yang lebih baik…
    salam sukses..

    sedj

  15. Dulu saya pernah dengar
    Ketika sama2 melakukan ketidakjujuran secara berjamaah demi kelulusan UN
    Kini, mungkin semangat ketidakjujuran itu mulai kendur
    Karena ketatnya kelulusan UN yang juga kendur

  16. untung aku udah lulus SMA udah lama, dari masih jamannya EBTANAS, jadi ga ribet ky jaman sekarang… ๐Ÿ˜€

  17. Pingback: Serdadu Kumbang | Menyindir Sistem Pendidikan « Blog AsepSaiba

  18. Pingback: Serdadu Kumbang | Menyindir Sistem Pendidikan | asepsaiba.web.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s