Demokrasi Kecil-kecilan

Minggu (13/06) pagi kemarin, di komplek perumahan tempat saya tinggal dilaksanakan pesta demokrasi kecil-kecilan untuk memilih Ketua RW yang baru. Ketua RW lama belum genap 1 tahun menjabat, mengundurkan diri karena sesuatu hal. Kami sebagai warga pun menghargai beliau, karena itu merupakan salah satu hak beliau. Namun, PR yang ditinggalkan cukup banyak. Karena itulah, segera dibeatuk panitia pemilihan Ketua RW yang baru. Saya termasuk yang diajak, tapi karena kesibukan (atau sok sibuk ya?) saya tidak bisa membantu secara maksimal.

Saya sempat membantu proses pemilihan nama-nama bakal calon. Hanya mengajukan nama, setelah itu tentu saja harus konfirmasi pada yang bersangkutan. Mau, atau tidak dicalonkan sebagai Ketua RW. Berbagai alasan dikemukakan oleh para bakal calon ketika menolak penunjukan itu. Ini sangat mudah dipahami, karena PR yang belum rampung tadi memang jadi masalah yang cukup berat (saya perkirakan, RW yang lama mundur karena masalah itu, serta masalah lain yang mengekorinya).

Beruntung, ada dua bakal calon yang menyanggupi (dengan ikhlas) penunjukan itu. Hingga tiba saat hari H, saya bangga melihat antusiasme warga megikuti pemilihan lagsung Ketua RW kami. Proses pemilihan berlangsng lancar bahkan penuh kekeluargaan.

Saya pun sempat berbincang dengan salah satu calon (yang jadi pilihan saya dan kebetulan tetangga satu RT). Saya tanyakan padanya apakah dia ikhlas dicalonkan. Jawabannya yang mengamini pertanyaan saya semakin meneguhkan niat saya untuk memilihnya. Itu harus saya pastikan, karena dapt menjadi modal awal seseorang untuk nanti menjalankan amanah yang diembannya. Apa jadinya jika seorang pemimpin mengemban amanahnya tanpa keikhlasan sedikitpun? Terpaksa menjalaninya. Tentu akan berimbas pada kinerja kepemimpinanya, bukan? Mungkin ia akan bekerja sesuka hatinya saja.

Tapi, calon pilihan saya kalah. Kalah dengan perolehan suara yang relatif tidak terpaut jauh. Ia memperoleh 109 suara, da lawannya memperoleh 124 suara (1 suara tidak sah). Berarti total ada 225 suara yang masuk. Angka yang cukup bagus untuk tolok ukur kepedulian warga akan lingkungan RW-nya. Karena di komplek itu terdapat kurang lebih 200 KK. Berarti sebagian besar warga menyalurkan hak suaranya (peraturan pemilihan menyebutkan dala setiap KK maksimal 2 suara).

Semoga pesta demokrasi kecil-kecilan itu bisa menjadi pembelajaran yang berharga bagi kami menjalankan kegiatan sehari-hari. Dan semoga Ketua RW yang terpilih dapat mengemban amanah ini sebaik-baiknya dan menghadirkan ketentraman di lingkungan kami. Selamat bertugas pak!

Advertisements

19 thoughts on “Demokrasi Kecil-kecilan

  1. halo halo..maksih dah kujungan balik..

    kalo boleh minta tukeran link donk mas..

    hehee…link nya mas udah aku pasang di sidebar ku..kalo mas keberatan jugga gpp..terima kasih..

    thanks banget

  2. Ah …
    Adem bener membaca postingan yang satu ini …
    terasa benar “guyub”nya …
    bersaing tetapi dengan cara yang sehat … kekeluargaan …

    semoga berlanjut terus ya Kang Asep …

    salam saya

  3. Koq beda ya ma pemilihan bupati, walikota dan gubernur, pada maunya maju semua… Biarpun PR sedang menumpuk. Malah incumbentnya bisa dijadikan alasan untuk maju lagi karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. hehehe……..

  4. Pingback: Pengalaman (Gagal) Jadi Pemimpin yang Baik « Blog Asepsaiba

  5. jadi pemimpin awalnya kan harus belajar dengan baik,sekarang di negeri tercinta kita ini para pemimpin kita sedang menikmati mimpi indah yang sulit untuk diukur dengan rasa cinta seorang pemimpin kepada rayat yang dipimpinnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s