Terima Kasih Jakartaku

Terima kasih Jakartaku, karena engkau aku bisa mengerti akan ‘hidup’ dan ‘kehidupan’.

Tahun 2004 menjadi salah satu tahun bersejarah bagi saya. Di tahun itulah saya melepaskan predikat setia yang menemani saya selama empat bulan, ‘pengangguran’ atau kerennya, ‘job seeker‘ :). Ya, di tahun itu saya diterima di sebuah perusahaan distributor alat-alat laboratorium. Letaknya di bilangan Tanah Abang Jakarta. Benar saudara, Jakarta. Kota yang tak pernah terpikir sedikitpun untuk saya bergelut di dalamnya.

Dulu waktu kuliah, dalam bayangan saya, setelah lulus akan bekerja di industri-industri yang lokasinya tersebar di pinggiran ibu kota, Bekasi, Cikarang, atau Tangerang. Lah, ini malah tepat di jantung ibu kota. Malah setiap hari, bis yang saya tumpangi lewat Bundaran HI, ikon sentral kota Jakarta. Monas, Bundaran Air Mancur plus patung Srikandi-nya. Duh, benar-benar tak terbayang saya mengais rejeki di kota metropolitan ini.

Saya tidak bohong, kawan. Sampai sekarangpun, kadang saya masih geleng-geleng kepala kalau dipikir-pikir kenapa saya ‘terdampar’ di sini… :).

Berbagai pengalaman hidup di Jakarta benar-benar membekas dalam diri pribadi saya. Bisa dibilang, itu cukup menempa diri saya agar terbiasa dengan ‘kerasnya’ hidup di Jakarta. Ini berlaku bagi saya, entahlah bagi anda. Bagi saya, pengalaman hidup di Jakarta akan menjadi bagian hidup yang akan saya ceritakan pada anak-cucu saya kelak.

Senyum Jakarta di Pagi Hari

Peluh keringat ketika dulu berjalan ke tempat wawancara, tepat di bulan puasa, dengan baju baru, bermodalkan ijazah di tas semua saya lalui demi harapan membalas budi orangtua dengan segera mendapat pekerjaan. Terjebak macet hingga berjam-jam, kecopetan, hampir kecelakaan, ribut dengan sopir angkot, kebanjiran, pernah saya alami. Sisi kelam Jakarta yang cukup berhasil menempa kemandirian saya.

Di lain sisi, Jakarta juga memberi saya banyak sekali inspirasi tentang hidup dan kehidupan. Tentang toleransi antar sesama, tentang adab tingkah laku, tentang kesabaran dan keuletan, tentang tanggung jawab, tentang prinsip hidup, dan tentang kejujuran.

Jakarta tidak akan pernah tidur untuk memberikan ‘perlindungan’ pada warganya. Asli maupun pendatang. Jakarta tida pernah protes ketika didatangi banyak orang. Jakarta memberi keleluasaan bagi siapapun yang mengharap rizki halal dari-Nya.

Namun Jakarta semakin rapuh kawan, rapuh karena ego kita yang tak peduli terhadapnya. Setiap hari ia menangis, kenapa kita semakin tak lagi peduli pada dirnya. Seenak hati membangun gedung pencakar langit, membuang sampah di sungai-sungainya, memenuhi langitnya dengan berbagai polusi. Hanya demi menghilangkan dahaga keserakakahan kita.

Tapi Jakarta tetap saja tersenyum manyambut kita setiap pagi, dengan berjuta-juta asa berbeda dalam setiap pikiran kita.

Terima kasih Jakartaku, karena engkau aku bisa mengerti akan ‘hidup’ dan ‘kehidupan’.

22 Juni, Selamat ULANG TAHUN ke-483 ibu kota kebangganku!

Advertisements

33 thoughts on “Terima Kasih Jakartaku

  1. semoga jakarta bisa lebih hijau, jarang macet dan banjir nggak ada lagi, salam kenal dari newbie pak

  2. semoga jakarta dapat lebih baik lagi dan sudah tidak ada lagi banjir, macet, dan polusi..walaupun saya bukan dari jakarta..

    wah..bagus ni cerita, tentang sejarah.

    Kunjungi juga blogku ya

    alamat: http://www.gigihpambudi.wordpress.com/

    “blog untuk layanan informasi dan diskusi” blog ini berisi tentang informasi-informasi dan bisa diskusi bersama, jadi blog ini sudah layak anda kunjungi.

    • Saya juga bukan asli Jakarta pak… Tapi Jakarta telah membrikan banyak pada saya.. Semoga Jakarta bisa jadi lebih baik..

      Oke pak menuju TKP.. 🙂

  3. Dulu lulus SMA tahun 2001 saya tidak langsung kuliah, tapi merantau dulu ke Jakarta selama 3 tahun. Betul apa yang dikatakan Kang Asep, bahwa 3 tahun di Jakarta itu menempa kepribadian saya untuk lebih “survive” menghadapi kerasnya hidup.
    Kang, kenapa kode HTML nya kebawa-bawa ke postingan??

  4. Selamat Ulang Tahun Jakarta.
    ibu kota yang sama saja dimana2 dgn kota2 metropolitan lainnya di dunia.
    penuh dgn kemacetan dan rawan kejahatan.
    survive di kota seperti jakarta ,tidaklah mudah.
    namun bunda tetap cinta jakarta dgn macet, banjir dan copetnya 🙂
    salam

  5. Berarti kang asep tidak pernah jauh dari bundaran HI ya, udah pindah kerja pun masih deket2 bundaran HI, malah deket ke Monas, ikon Indonesia, hehe…
    Pengalaman saya, Jakarta benar2 menempa diri saya menjadi gendut, hehehe….

  6. Assalamu ‘alaikum wr.wb, Kak.

    Saya datang sebagai blogger newbie yang ingin berkenalan, silaturahmi dan menyerap ilmu dari para senior. Semoga kunjungan saya bermanfaat.
    Blog kakak bagus sekali-saya ingin belajar disini boleh ya kak.

    Kak, mohon berkenan berkunjung ke blog saya, mohon diberikan saran2 atau nasihat agar blog tersebut bagus dan terkenal seperti blog ini. Saya tunggu kakak di Panti Asuhan, kalau datang akan saya sambut dengan lagu rebana deh.

    Salam hormat saya dari Batam.

    Wassalamu alaikum wr.wb

  7. Jakarta ya? kota penuh kenangan juga ne…..ketika jadi job seeker juga….
    curhat juga ne, he…2: pengalaman yang tidak bisa saya lupakan, ketika tes PNS naek motor dari kampung , eh nyasar masuk tol deh…..(wkwkwkwk)….

    SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA, moga gak macet lagi….

  8. iya yak… lupa…
    selamat ulang tahun jakarta
    semoga makin baik kepada warganya
    salam sukses..

    sedj

  9. mmhh…kota tempat dimana kita bekerja….seyogyanya kita buat seperti rumah sendiri…
    selamat ulang tahun jakarta.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s