Sudah Saatnya Teknologi Diterapkan, Blatter!

Wasit bego! Wasit goblok! Wasit tolol! Mungkin kata-kata itu yang akan keluar dari sumpah serapah pedukung tim kesebelasan Inggris bila Piala Dunia di gelar di Stadion Bung Karno. Atau mungkin juga, jidat Jorge Larrionda akan benjol dihampiri oleh batu, botol air mineral, atau ‘senjata’ sejenisnya yang biasa bertebaran ke arena tanding saat salah satu pendukung tim kecewa.

Pun demikian di Afsel sana, kawan. Hooligan bebas bersumpah serapah akan keputusan wasit asal Uruguay itu. Untung saja, pihak keamanan sigap mengamankan dia untuk mencegah hal buruk terjadi pada wasit dan kedua asistennya. Penjagaan ekstra ketat langsung dikerahkan.

Saya juga kecewa berat. Sama seperti kata orang kebanyakan, mungkin saja keadaan bisa terbalik andai gol Lampard disahkan. Padahal bola sudah melewati sekitar 10 cm dari garis gawang. Para pemain ‘Trio Macan’ cukup tersentak dan tidak bisa menjaga mental mereka. Down, dan semakin down dengan bertambahnya gol.

Sudahlah, lupakan kekalahan pahit itu (*berusaha menghibur diri). Bisa jadi, kualitas tim Jerman memang -sedang- lebih bagus dibanding Inggris.

Yang pasti, tekanan dari banyak pihak tampaknya cukup mampu melunakan FIFA untuk kembali mengkaji penggunaan teknologi sebagai alternatif pengambilan keputusan dalam setiap pertandingan sepakbola. Sensor pada tiang gawang, atau penyematan chip pada bola merupakan dua contoh aplikasi teknologi dalam olahraga ‘si bundar’ tersebut.

Sepp Blatter selama ini dikenal ‘keukeuh’ untuk tidak menggunakan teknologi dengan alasan agar lebih ‘memanusiawikan’ dan memaksimalkan tugas wasit. Namun, seiring perkembangan teknik permainan, kemampuan individual yang beraneka ragam, teknologi pembuatan bola semakin meningkat, serta taktik yang semakin luas, seharusnya human error karena kekeliruan wasit bisa diminimalisir dengan penerapan teknologi. Ingat, wasit juga manusia. Bahkan kabarnya, Larrionda pun sangat menyesali keputusannya, hingga berucap “Oh, Tuhan!”, saat menyaksikan tayangan ulangnya.

Hal itu juga agar keputusan kontroversial yang sering menghias pertandingan tidak mencederai semangat sportivitas. Pemain dituntut untuk bermain sportif, seharusnya kerja keras mereka di arena tanding pun dihargai dengan keputusan-keputusan yang tepat.

Semoga saja FIFA segeram menyetujuinya, dan diterapkan juga untuk liga-liga lokal di negara anggota FIFA. EPL, La Liga, Lega Calcio akan semakin semarak dengan kehadiran teknologi. Bagaimana dengan Liga Super? Hmm,
Mending kita nikmati mimpi indah dulu tentang timnas yang berlaga di Piala Dunia (dengan jadi tuan rumah tentunya), atau dukungan suporter yang santun. Jangan yang muluk-muluk dulu. Benahi dulu PSSI yang katanya sedang ‘sakit’ itu.

(Tulisan ini dibut sebagai bentuk kekecewaan atas tersingkirnya tim favorit saya, Inggris alias tim Trio Macan alias Three Lions 😦 )

Advertisements

35 thoughts on “Sudah Saatnya Teknologi Diterapkan, Blatter!

  1. Saya kenapa ya beranggapan biar saja begitu, kita tidak perlu terlalu berpegang pada teknologi tinggi untuk sepak bola.
    Kesalahan wasit, kesalahan pemain, adalah bagian dari sisi kemanusiaan sebuah sepak bola. Saya merasa sayang saja kalau sisi itu hilang dengan kecanggihan teknologi.

    • Tapi kasihan Bli sama pemainnya yang sudah mengasah latihan berbulan-bulan… ketika sukses menjaringkan bola..Ah! kecewa hanya karena kesalahan wasit yang ‘manusiawi’. Saya rasa, sis kemanusiaan wasit tetap nomer satu ketika ia harus mengawal jalannya setiap pertandingan berlangsng sportif. seperti memberi peringatan pada pemain yang melanggar lawan, dsb.

      • Tapi kekurangan akan selalu ada itulah kehidupan…

        Kalau mau berteknologi, apa pada akhirnya semua sekalian satu lapangan dan semua badan pemain dipasangi sensor juga? Sehingga semua kesalahan bisa diminimalisir dengan teknologi komputer?

        Kadang kita haus dengan kesempurnaan, tapi melihat sisi lain bahwa hidup tidak sempurna juga penting bukan? Saya rasa sepak bola bukan masalah menang dan kalah, tapi semua orang justru larut dalam ambisi kejayaan, salah sedikit saja kita bisa begitu mudah membenci orang lain, atau membenci sistem…

        Kita sangat mudah melepaskan emosi kita, entahlah, kadang saya melihat sepak bola dan pendukung jadinya jauh dari olahraga yang sehat – apalagi kalau bercermin pada negeri ini.

        He he, tidak ada yang sempurna, tapi toh dalam ketidaksempurnaan itu kita bisa belajar menghargai mesti kita kalah atau menang, dan kita bisa menerima kekalahan walau kita mungkin layak untuk menang. Sehingga yang ada pada akhirnya sebuah kebersamaan yang melebihi menang dan kalah, dan suatu saat nanti berlaga kembali dalam kebersamaan yang lebih memikat 🙂

  2. Meskipun saya juga lebih memilih inggris drpd jerman tapi saya setuju dengan keputusan fifa. Keputusan wasit tanpa bantuan teknologi, karena membuat pertandingan lebih hidup, lebih manusiawi. Seandainya tidak, buat apa wasit, bisa saja kita menggunakan sebuah teknologi untuk memimpin pertandingan, tanpa cacat, tanpa kesalahan, tapi saya tidak yakin apakah pertandingan akan sama serunya dengan wasit manusia.

  3. hihihi..
    walaupun saia bukan pendukung the three lions tapi saia turut menyesalkan kejadian kemaren..
    Itu jelas2 sebuah Gol..
    well,
    namanya juga mata manusia,
    nggak jauh dari khilaf..
    semoga jadi bahan pertimbangan biar next time, teknologi bisa ikut dipakai untuk menghindari hal2 semacam ini..

    semangat!!

  4. Gini kang kejadiannya kalo menolak teknologi. Teknologi bukan untuk ditolak, tapi untuk diberdayakan sesuai kebutuhan kan kang.. >> sok pinter 😀

  5. Buat mas cahya, pada akhirnya teknologi tidak mungkin dibendung. Itu pasti. Mungkin sebulan kedepan, setahun kedepan atau bahkan sepuluh tahun kedepan. Mungkin ketika semua yang menagisi kekalahan inggris ini sudah meninggalkan alam fana ini. Sungguh dramatis ketika melihat seorang bek atau kiper salah oper sehingga bisa dimanfaatkan penyerang lawan menjadi sebuah gol, atau ketika seorang pemain muda memenangkan adu sprint dengan seorang bek kawakan dari inggris yang dikonversikan menjadi sebuah gol. Tapi sungguh ironis ketika seorang wasit tidak mengesahkan gol yang jelas-jelas adalah gol, atau yang jelas-jelas offside disahkan sebagai gol oleh sang pengadil. Kita sangat menikmati hal-hal yang dramatis sebagai pencapaian besar tapi tidak untuk mentasbihkan hal-hal yang ironis sebagai kebenaran mutak. Manfaatkan teknologi dengan bijaksana. Begitulah seharusnya kita memandang keindahan sisi manusiawi kehidupan…

  6. Saya, setuju, untuk hal2 yang kontroversial teknologi boleh digunakan sekedar untuk membantu pengambilan keputusan sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak. Bukan berarti wasit lantas digantikan oleh teknologi. Peran wasit tetaplah yang utama, sementara teknologi hanyalah sebagai sarana pendukung saja.

  7. hehehe… ke-keukeuh-an mas blater itu memang cukup beralasan kok mas. kalo pada akirnya teknologi diikutkan dalam penentuan keputusan maka bisa jadi Maradona nggak akan terkenal dengan julukan gol tangan tuhan mas….

    hehehe… kalo saya ketika pertandingan itu sih jagoin Jerman mas…

  8. emang blatter kuper deh
    masa video canggih gitu ga diterapin di sepakbola

    tapi bagaimanapun juga inggris harus pulang lebih awal
    hahaha

    hidup brasil!

  9. Hooligans pantas kecewa …
    sehingga bisa dimengerti jika mereka memaki …

    kedudukan 2 – 2 akan bisa sangat berarti lain bagi Three Lions …
    semangat bisa terpompa …
    dan hasil akhir bisa jadi lain …

    salam saya

  10. saya bisa memahami bentuk kekecewaan dari tulisan ini, tentu ini lebih baik daripada marah dilampiaskan di tengah lapangan. hidup menulis!! salam blogger 🙂

  11. Kejadian ayng begitu cepat memang tidak memungkinkan wasit untuk melihat kondisi saat gol. hal inilah yang dimanfaatkan oleh pemain-pemain tertentu dalam mengambil keuntungan yagn tidak sah. Fair play tidak berlaku kali ini selama keputusan wasit berbicara seperti itu.

  12. Aduh, kang asep. Kesuwun pisan wis mampir meng bloge kula (http://www.aswiralodra.wordpress.com).
    Sarane kang asep berguna pisan kanggo kula, apa maning kula dau belajar lan bloge kula masih dalam tahap pembangunan! Ditunggu saran2 selanjute ya kang! Blak2an bae lah karo kita mah, kan ilmu butuh perjuangan gigih! Go wong dermayu, maju terus! Keuangan dudu halangan kanggo nuntut ilmu.

  13. mungkin fifa punya alasan dan ketakutan tersendiri bila menggunakan teknologi… ketakutan yang paling beralasan adalah “takut teknologinya nanti di Hack”. 😀 kan berabe tuh. haheu..

  14. bener harus punya challenge remaining seperti di tennis agar pemain bisa protes kalau diving atau soal goal

  15. Sifat dasar manusia memang suka permainan atau bermain-main… jadi, biarkan sepak bola ini hanya menjadi sebuah “permainan”, jangan terlalu serius menanggapi kemenangan atau kekalahan… enjoy the game… 🙂

  16. Huahahahaha sarua euy tim kesayangannya *toss heula ah*

    Yaaaa gimana yah, cuman bisa senang merasa terwakilkan dengan postingan ini. Saya masih speechless sampe sekarang *lebaay*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s