Menghadap-Nya Jangan Sekedar Saja

Selasa kemarin, kebetulan saya dalam perjalanan kembali menuju Jakarta setelah empat hari pulang mudik untuk menjenguk orang tua yang sakit. Tepat jam tiga sore yang saya perkirakan waktu Ashar sudah menjelang, saya pun berhenti di sebuah masjid di wilayah Pusakanegara Subang. Ketika itu saya pakai celana pendek, karena saya merasa nyaman bila berkendara jarak jauh dengan bercelan pendek saja.

Celana pendek dengan kaos yang saya pakai sedari pagi, dan tak lupa sarung saya bawa serta. Ambil wudhu dan bersiap sholat. Nah, di saat itu saya terenyuh meihat seorang baya, mungkin seumuran abang saya, yang juga selesai wudhu, mengeluarkan bungkus plastik dari tasnya. Ia megeluarkan sarung dan baju yang masih bersih dari bungkusan itu.

Celana panjang yang ia kenakan dibukanya, karena ia kenakan celana pendek. Kemudian ia pakai sarung, lalu kaos yang ia kenakan ia ganti dengan baju yang masih rapi tadi. Subhanallah, tiba-tiba saja saya merasa tersindir melihatnya. Saya makin takjub ketika memperhatikan ia sholat.

Ternyata dia -maaf- cacat kaki sebelah kirinya, sehingga pada saat sujud ia silangkan kaki kirinya itu ke samping kanan tubuhnya. Sungguh, di balik ‘kekurangan’ yang ia miliki ia masih tetap bersyukur dengan cara bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah.Selesai sholat saya tak bisa lepas memperhatikannya. Setelah kembali berpakaian seperti sediakala sebelum ia sholat, ia menuju motornya. Motor itu ia gunakan pula sebagai sarana untuk mengais rizki Allah.

Saya taksir, ia merupakan kurir supplier makanan ringan untuk warung-warung kecil, karena saya lihat banyak sekali bungkus kue-kue yang biasa saya lihat ketika putri saya kembali dari jajan di warung sebelah rumah. Ia pasti berpikir, akibat perjalannya baju dan celana yang ia gunakan mungkin saja kotor, bakan terkena najis. Untuk meyakinkan, maka ia pun membawa terpisah baju dan sarung yang ia khususkan untuk sholat.

Sungguh, saya benar-benar merasa tersindir olehnya. Dengan kesungguhannya saat ia menghadap Ilahi untuk bersujud meraih keridhoan-Nya. Mungkin ia merasa bahwa Allah tak henti melimpahkan berkah bagi dirinya atau keluarganya, sehingga ia merasa akan sangat ‘kurang ajar’ betul jika saat menghadap-Nya ia berpakaian seadanya saja. Meskipun dengan ‘kekurangan’ yang ia miliki tadi, ia tetap mensyukuri yang Allah limpahkan padanya.

Lantas bagimana dengan saya? Tengok saja, mau berangkat kerja, kondangan, jalan-jalan ke mall, mengunjungi teman, rapat pengurus RT, dllsb, hampir selalu saya kenakan baju-baju terbagus yang saya miliki. Tak lupa berkaca merapihkan rambut, semprot sana-sini dengan wewangian. Tapi, lain hal ketika memenuhi panggilan-Nya, saya gunakan pakian seadanya, sarung seadanya, kadang tanpa merapihkan rambut, kadang tergesa-gesa pula karena ada urusan duniawi yang dirasa lebih penting, atu malah menunda waktu karena ada perkara yang sedang ‘tanggung’.

Terima kasih Mas, engkau telah memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diri saya pribadi. Untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat dan ujian yang Allah anugerahkan, salah satunya dengan car bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah yang diperintahkan-Nya, termasuk dengan mengenakan pakaian terbaik saat tafakur bersujud menghadap-Nya.

Advertisements

47 thoughts on “Menghadap-Nya Jangan Sekedar Saja

  1. (maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
    Kadang sayapun suka begitu. Mungkin lantaran berfikir bahwa Allah itu bersifat Ghofur, makanya suka seenaknya.

  2. Manusiawi banget ya mang? Hidup ini memang selalu ada yang di harapkan atau pilihan, Dan kemungkinan itu adalah 1 1 nya pilihan dalam hidupnya. Jika dia memiliki fisik yang utuh. Seperti kebanyakan sifat manusia, jika merasa dirinya lebih sempurna. Maka belum tentu ia akan khusu,

    • Padahal kan mestinya sebaliknya ya.. sebagi wujud syukur kita dianugerahi tubuh yang normal, mestinya sungguh2lah ketika meghadap-Nya.. ini malah sebaliknya… 😦

  3. Saya juga jadi tersindir ni, Mas.
    Memang lucu, mengahadap Yang Maha Kuasa kadang saya hanya pakai kaos oblong, tapi ketika menghadiri undangan hajatan perlente.

  4. Ini tulisan yang sangat menohok sekali Kang Asep …
    Saya juga merasa diingatkan …

    Bahwa …
    Kita ini menghadap Sang Khalik …
    Masak iya berdandan seadanya …

    Thanks Kang …
    Ini cerita yang mencerahkan

  5. bunda jadi malu sekali, membaca tulisan ini, serasa dibuka aib nya.
    namun, memang itulah yg sering kita lakukan, ketika menghadapNYA, benar2 berbeda dgn ketika menghadap bos atau orang penting lainnya, pasti berusaha tampil sekeren mungkin.
    namun, ketika menghadap Sang Maha Penguasa Dunia dan Akhirat, kita malah datang dgn seadanya.
    Terimakasih Mas Asep telah menyentilku dgn kisah ini.
    Semoga kita semua mau tampil lebih baik lagi ketika mengharap ridhoNYA, lebih bersyukur.
    salam

  6. sungguh sebuah pelajaran yang berarti ya kang
    bener kata kang asep kita terkadang terlalu peduli dengan pakaian kerja dan ke pesta sementara ketika menghadapNya kita malah pakai baju seadanya

  7. Begitulah kebanyakan kita saat ini, urusan menghadap sang maha Agung sering kita nomor duakan.. semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua utk memperbaiki diri ke depannya.. Aammiinn

    • Ditulis untuk ngingetin diri sendiri Cha.. Jadi pas mo solat.. Inget tulisan ini, jadi malu sendiri kalo masih tetep pake pakaian seadanya pas solat.. 🙂

  8. nice post,,,,mas,,,
    ternyta,,,,,tdk ad manusia yg sempurna ya mas,,,,,,dg mmbca tulisan anda,,,,,,sy bertekad untk mnjdi manusia yg lebih baik lgi,,,,,makasih ats pencerahannya,,,,,,
    slm knl…,,
    areeve
    wsslm…….

  9. Pengalaman yg luar biasa, dan lebih luar biasa lg saat kang Asep sharing dngn pmbaca blognya. Thanks yah kang.. Salam mancing n ngaliwet

  10. Mas Asep cerita singkat yg penuh makna …
    se7 mas, bayangkan kalau menghadap kepala kantor or RT (pejabat paling bawah), kita akan memakai pakaian yg bersih … apatah lagi ‘menghadap Yang Maha Tinggi … MasyaAllah …

  11. Jangan lupa juga dengan sindiran ini :
    Kita kondangan, nyumbang hajatan keluar duit puluhan ribu berani. Giliran infaq, sedekah atau minimal waktu jumatan keluarnya cuma seribu, dua ribuan.

    hampir sama juga khan dengan kejadian di atas???

  12. Tulisan kang Asep membuat saya sadar, kalau selama ini kita telah lalai dalam menjalankan ibadah.
    Sekedar gugur kewajiban kali ya…
    Thanks Kang… 🙂

  13. Merasa tersindir juga dengan cerita ini karena masih sering lalai memberikan yang terbaik untuk akhirat saya.. Hatur nuhun kang 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s