Pindang Gombyang ala Indramayu

Anda sudah tahu salah satu masakan khas Palembang, Pindang Ikan Patin? saya pernah menuliskannya di sini. Kebetulan rutinitas pekerjaan mengharuskan saya wara-wiri Jakarta-Palembang minimal sebulan sekali, sehingga masakan itu sudah tak asing lagi di lidah saya.

Di Indramayu, bumi Wiralodra kota kelahiran tercinta saya ternyata juga terdapat masakan sejenis Pindang dengan penyajian mirip pindang khas Wong Kito Galo itu, meski tetap saja dimana-mana, Indramayu selalu terkenal dengan mangga-nya (ya iyalah.. namanya juga kota mangga..). Namun, Indramayu pun memiliki banyak tempat wisata kuliner yang wajib jadi sasaran empuk para pemburu kuliner. Pantai Glayem di Indramayu memiliki banyak tempat makan yang menjajakan ikan bakar yang masih segar dari laut. Hampir setiap saya mudik, kawasan kuliner Indramayu itu jadi sasaran saya. Namun, belum sempat saya tuliskan di blog ini.

Pindang ala pesisir yang saya maksud itu dikenal dengan nama Pindang Gombyang. Namun sebelum menikmati hidangan nan lezat ini saya ingin berkisah tetang betapa perlu perjuangannya untuk mencapai tempat yang menyajikan masakan ini.

Sasaran berlokasi di muara pantai pesisir utara Indramayu, tepatnya di Muara Karangsong. Jika anda berada di pusat kota Indramayu, ada dua alternatif jalan. Pertama setelah alun-alun Indramayu, nada akan menemui bundaran (perempatan) pertama, ambila saja arah kiri. Lalu yang kedua, cari saja Bunderan Kijang, juga ambil arah kiri dan ikuti saja jalan itu menuju Karangsong.

ketika melewati kedua alternatif jalan itu, anda akan disuguhi oleh pemandangn perahu-perahu nelayan lokal yang sedang berlabuh, beberapa teronggok tak terurus.

Bahkan, jika anda memiliki waktu yang luang nikmati juga proses pembuatan kapal-kapal tersebut oleh seniman-seniman perancang perahu setempat.

Pintu gerbang menuju lokasi Muara Karangsong, yang juga merupakan lokasi wisata.

Di sebelah kira foto di atas, berjejer rapih perahu-perahu nelayan yang sedang berlabuh, dan tentunya plus bau-bau harum khas ikan laut :). Kebetulan saat kami ke sana, semalam hujan cukup lebat sehingga meninggalkan genangan air dengan lubang-lubang jalan yang cukup dalam. Nah, di sinilah awal perjuangan saya. Dengan mobil tua butut, dan dengan perasaan khawatir dari para penumpang (khawatir mobil selip atau bahkan kepater alias nyangkut). Namun dengan kesigapan supir yang cukup mumpuni, selamatlah kami sampai lokasi.

Begitu turun, maka anda akan menikmati suguhan khas pesisir dan wilayah muara sungai. Perahu berseliwaran.

Inilah lokasi yang kami tuju: “Ananda Lesehan – Muara Karangsong”, demikian yang terpampang di depan tempat makan tersebut. Mengedepankan konsep lesehan dalam pelayanannya.

(Eit anak siapa itu… cantik banget ya!)

Ikan Manyung

Nah, setelah menikmati perjalanan yang melelahkan namun juga kepuasan setelah melihat pemandangan dan suasananya. Inilah Pindang Gombyang yang saya maksud. Entah kenapa disebut Pindang Gombyang (menyesal saya tidak sempat bertanya itu pada si ibu penjual). Yang pasti, katanya masakan ini terbuat dari ikan Manyung dengan kuah khas berwarna kuning nan pastiinya lezat tiada tara.

Pindang Gombyang

Ukuran kepala ikan yang besar. Meski disajikan dengan sederhana, namun rasanya jangan dikira. Kuah kuningnya cukup khas, hingga saya sulit membandingkan dengan rasa kuah yang lain. Lemak yang cukup banyak di area kepala ikan tentu saja menambah kegurihan masakan ini. Namun, hati-hati bagi anda yang berpantang terhadap makanan berkadar lemak (kolesterol) tinggi.

Bukan hanya Pindang Gombyang saja yang disajikan. Ikan bakar, cumi, udang, dan keluarga masakan hasil laut lain bisa anda pesan. Jadi, jika anda ke Indramayu (atau ketika melewati Indramayu), tak ada salahnya untuk mencoba masakan ini, serta menikmati pemandangan muara pantai Indramayu.

Advertisements

35 thoughts on “Pindang Gombyang ala Indramayu

  1. Enaknya wisata di pantai bisa milih sendiri menu-menunya, he he, saya juga pingin kalau begitu. Di Jogja pantainya jauh banget ke Selatan :(.
    ~~
    Loh, tak kirain Bli tinggal di Bai loh… eh teryata di jogja toh.. tau gitu, kmrn sy sempet ‘luntang-lantung’ di jogja kopdaran aja ya bli… 🙂

  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Saya suka sekali makan ikan manyung yang besar itu, Kang
    ~~
    saya malh baru makan itu loh kang… lain kali mo coba menu lainnya ah…

    • lhadalah….
      kekayaan kuliner kita memang tiada tandingan
      kalo ingat pindang……………….
      mengingatkan pada kampung halaman

  3. Pingback: dblogger, rindukah kalian? « gerhana coklat

  4. wlaupun susah payah utk menuju lokasinya, namun cukup pantas utk diperjuangkan, kalau masakannya wah begitu ya Mas Asep. 🙂
    salam
    ~~
    bener sekali bun… rasa capek waktu mengarungi jalanan berlubang musnah setelah menikmati suasana dan masakannya…

  5. wwiih proses pembuatan kapal yang keren tuh
    mau dong bang sekali sekali diajak kesana
    sekalian ditraktir
    akakakak
    ~~
    boleh.. boleh.. beneran ya…

  6. hwaaaa saya suka makan pindang ikan patin yang lembut karena saya pernah di Paleknang 6 tahun.
    Pindang ini kayaknya mantaf juga ya mas, jadi ingin mencicipinya.
    Thanks infonya
    salam hangat dari Surabaya

    ~~
    Salam hangat pakde…

  7. wah, mau donk.
    Maaf saya lama ga ngeblog
    Baru sempat update lagi barusan 🙂

    Salam persohiblogan

    ~~
    Ini dia blogger yang paling ditunggu.. Akhirnya dikau muncul juga kang… Alhamdulillah… 🙂

  8. Asik, ada fotonya kan enak, Mas Asep… 😀

    *udah dua hari ini makan pindang terus di rumah, jadi cukup pindangnya :mrgreen:*

  9. Pingback: Nasi Bancakan Abah (Mang Barna) @Bandung | Selera Khas Kampung « Blog Asepsaiba

  10. hallooooooo,,,ini jalanan di kampung di mana saya di besarkan,,,Subhanallah,,,jadi kangen pengen ke sana ,,,thanks infonya ya A,,,salam kenal…

  11. 13-02-2011
    Sayang sekali waktu itu jalannya parah banget, padahal jaraknya 200 m lagi,shg gue nggak berani nerobos, takut mobil nyangkut dilubang, jadi belon nyobain tuh pindang gombyang ananda lesehan, lain kali aja deh ………………

  12. Indramayu gudangnya ikan pantas kalo menu ikannya beraneka ragam, sayang sekali kalo menu2 yg diwariskan orang tua jaman dulu hilang begitu saja..

  13. ht2 za bg pengguna kendraan mtr lwt jl.ry,kr.song tu2p kaca helm karena banyaknya debu serbuk kayu pd proses pembuatan perahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s