Jadi Legislator Harus Bekerja Penuh Waktu

Judul yang sama saya lihat sekilas di harian Media Indonesia entah terbitan kapan (karena saya melihatnya sebagai alas tempat duduk penumpang KRL Pakuan di sebelah saya, biasa.. ‘ngampar mode on). Hmm, dari judul itu saya ‘kok langsung tertuju pada beberapa anggota parlemen yang juga berprofesi sebagai artis itu (eh maksud saya pekerja seni, artis ‘kan bukan profesi…). Tak perlulah saya menyebut siapa saja mereka. Yang jelas, wajah mereka pasti sudah tak asing lagi di dunia keartisan.

Anggota parlemen dari kalangan artis memang bukan hal yang tabu lagi. Sebelum jadi Gubernur California, Arnold Schweizeneger, warga AS asal Austria juga menjadi anggota parlemen. Tapi ia benar-benar mendedikasikan waktunya secara penuh dan meninggalkan aktifitasnya sebagai artis Hollywood.

Komentar salah satu anggota DPR dari kalangan artis mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi menerima job di hari Senin-Jumat, kecuali pada akhir pekan, karena menurutnya Sabtu dan Minggu adalah hari libur di pekerjaannya sebagi anggota dewan. Bahkan seorang anggota dewan yang kita kenal juga sebagai pelawak sering saya lihat memandu acara TV malam hari. Mungkin menurutnya, jam kerja kantor ‘kan hanya sampai jam 4 atau 5 sore, selebihnya bebas.

Tak dipungkiri, gaji menjadi artis jauh lebih tinggi dari anggota parlemen. Gaji satu kali menjadi MC sama dengan gaji sebulan di parlemen. Tapi, kenapa mereka ‘ngotot’ jadi anggota parleman kalau begitu?

Di Jepang, para anggota parlemen betul-betul tidak menyisaka waktunya untuk profesi lain selain di parlemen. Hukuman yang berat menunggu jika menyalahinya. Maka tak heran klau di sana penghormatan terhadap nggota dewan cukup tinggi, contohnya mereka dipanggil sensei (guru) oleh khalayak. Rasa tnggungjawabnya pun cukup tinggi, tak jarang kita sering membaca berita tentang pengunduran diri mereka jika gagal dalam menjalankan tugas.

Mereka, para anggota dewan itu dipilih oleh kita, rakyat biasa, dengn berbagai jenis lapisan masyarakat dari berbagi kalangan. Maka, jam kerja kita, sebagai rakyat tak ditentukan oleh almanak maupun jam dinding. Roda kehidupan rakyat terus berputar. Mau sabtu atau minggu, mau pagi atau bahkan dini hari. Maka sungguh sangat disayangkan kalau mereka (para anggota dewan yang terhormat itu) membatasi waktu kerja mereka.

Beginilah jadinya kalau semalam bekerja 'sampingan'

Maka, sepatutnya mereka mendedikasikan waktu secara penuh melaksanakan tugasnya. Kehadiran fisik tak diperlukan di kantor. Yang penting curahan pikiran tak terbagi dengan urusan pribadi macam menjadi MC, syuting film, atau menjadi juri acara kompetisi musk atau akrobat tari.

Atau ini lebih parah.. Kosong melompong...

Sudah terlau bosan kami mendengar kabar negatif dari gedung parlemen. saat rapat ketiduran, plesiran dengan dalih studi banding, atau yang terakhir banyak yang mangkir saat rapat. Kami, rakyat jelata ini tidak peduli dari kalangan apapun kalian berasal, yang penting tunjukkan kalau kami tak salah memilih kalian. Tunjukkan saja dengan kinerja yang baik. Ya bapak, ibu.. Please…

Advertisements

18 thoughts on “Jadi Legislator Harus Bekerja Penuh Waktu

  1. lagi gundah ni kayaknya akang yang satu ini.
    ya memang begitulah kualitas anggota dewan kita. beberapa memang ada yang baik dan berdedikasi. tapi beberapa itu belum cukup. saya pribadi jg tidak masalah siapapun jadi apapun, termasuk anggota dewan atau kepala daerah, namun bila sudah menyangkut orang banyak tetapi terlihat tidak peduli dan justru lebih peduli dengan pencitraan diri dan kebanggaan pribadi, nggak ada salut-salutnya saya dengan orang seperti itu.
    kita berdoa saja kang, karena sekarang baru itu yang pasti bisa kita lakukan πŸ˜‰

    ~~
    Benar kang.. Berdoa dan.. sebagai blogger.. sering2 saja menulis dengan tema ‘mengingatkan’ semacam ini ya… πŸ™‚

  2. Yang lebih parah, meski udah jadi anggota parlemen tetep aja jadi petinggi parpol tertentu T.T

    ~~
    Iya.. jadiinya rakyat gak keurusan.. sibuk ngurusi posisinya di parpol..

  3. Buat Legislator, bukitkan anda mampu,tanamkan Ahlak dan moral anda, karena Anda dipilih Masyarakat, tidak usah neko-neko, menambahi kang Asep, Nihon sugoi desu ne, ja Arigatone Asep san, mata aimasho……

    ~~
    Umaku ikeba, karera wa ninshiki shite tsukura rete imasu Kangrudin san… πŸ˜‰

  4. Saya prihatin dengan sikap anggota dewan yang dikala rapat ujung – ujungnya ribut, padahal anggota yang saya harapkan itu prodak intelektual bukan prodak terminal… huff

    ~~
    Mungkin produk terminal yang sok intelektual… πŸ™‚

  5. Mungkin memang di Indonesia jam kerjanya belum jelas. Jadi selain menjadi anggota dewan, ya masih sangat sempat untuk bekerja di tempat lain. Mungkin juga memang gajinya kurang ataun biaya utk jadi dewan mahal, jadi dari pada korupsi lebih baik cari job lain utk balik modal. Tapi percayalah, masih ada anggota dewan yang berdedikasi tinggi. πŸ™‚

    ~~
    Tadi pagi saya baca di Koran Tempo, ada wacana absensi dengan sistem sidik jari.. mencegah absen nitip.. Padahal, jika memang kedisiplinan terjaga, tak perlulah sampe harus menggunakan absen2an seperti itu ya kang…
    Benar, masih banyak kok kawan2 anggota parlemen yang ‘lurus’.. semoga bisa menular ke yang lain ya…

  6. tenang saja masih ada alam akherat….he….2. Pasti mereka dimintain tanggung jawabnya…(bagi yang percaya lho????he..2

    ~~
    Ini lebih menohok lagi nih.. Tunggu saja nanti alam hisab… πŸ˜€

  7. mari kita galang satu komunitas yang menentang para anggota dpr menggunakan waktunya di luar kerja sebagai legislator.

    ~~
    Bang aji jangan latah bikin grup2an ah… malu ama umur… :mrgreen:

  8. Kebanyakan dipilih bukan karena integritas dan kompetensi calon sih, tetapi popularitas semata. Jadi ya gitu 😦

    ~~
    Apalagi yang sudah ‘kadung’ jadi selebritis ya kang…

  9. namanya juga cari duid…. ngelawak di kalangan DPR pun boleh jadi…
    ~~
    Akhir2 ini juga mereka makin disorot karna lagi ada lakon “mangkir” πŸ˜›

  10. yaaahhh…………walaupun ada juga beberapa yang baik dn bertanggung jawab sebagai wakil rakyat,
    namun belum cukup, krn yg diharapkan rakyat ketika memilih mereka , adalah mengurusi urusan rakyat.
    mereka wakil rakyat, jadi harus mewakili kepentingan rakyat, bukan kepentingan diri sendiri, bukan begitu ,Mas Asep ?
    tapi, sekarang hanya berdoa saja yg bisa kita lakukan , semoga akan ada perubahan ,amin
    salam

  11. legislator jd kerja sampingannya mas..
    pekerjaan utamanya nyari proyek utk kembalikan modal beli kursi empuk waktu pemilu sebelumnya πŸ™‚

  12. Menyedihkan dan memprihantinkan memang. Tapi itulah faktanya. Seharusnya ketika menjadi wakil rakyat di DPR harus sudah tahu konsekuensinya dengan mencurahkan segenap waktunya utk kepentingan rakyat saja.

  13. Untuk topik yang ini,, memang berat Kang Asep,,
    intropeksi buat diri ku juga..
    setiap orang adalah pemimpin
    setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya,
    seorang terhadap dirinya sendiri
    suami terhadap keluarganya
    pemimpin terhadap yang dipimpinnya,,
    di satu sisi pahala yang besar bagi pemimpin yang sukses
    di lain sisi, ancaman yang pedih bagi pemimpin yang lalai menunaikan amanah,,
    insyaaf,,
    dan selalu intropeksi
    Nuhun kang Asep

  14. Pingback: Toilet VVVVVVVIP « [SaiBlog]

  15. Pingback: Toilet VVVVVVVIP | asepsaiba.web.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s