Jadi Pemimpin (Jangan) Arogan

Pada kegiatan Operation Excellent (OE) Camp yang pernah saya tulis, ada beberapa pengalaman menarik yang saya jadikan pelajaran. Terutama tentang makna kepemimpinan.

kegiatan diselingi dengan bermacam permainan yang mensimulasikan kreatifitas, kerjasama, kekompakan, konsentrasi, inisiatif, serta kepemimpinan. Nah, khusus untuk poin terakhir, saya memiliki sebuah pengalaman unik yang jadi pembelajaran bagi saya pribadi, dan semoga bagi anda juga.

Di awal pembentukan kelompok, secara aklamasi saya ditunjuk menjadi ketua kelompok. Dalam kelompok ini, terdapat dua orang yang saya kenal merupakan manajemen atas (malah salah satunya atasan langsung saya).

Pada sebuah sesi permainan, waktu itu permainan ‘sandal bakyak’, kami harus berjuang bersama untuk sampai di garis finish paling awal. Tentu saja ini butuh kekompakan, karena lima orang sekaligus harus melangkah beriringan. Saya dan beberapa rekan mengajukan sebuah strategi agar kami bisa kompak, namun ‘beliau’ memaksakan strategi sang ia ajukan. Ketika banyak pendapat disampaikan oleh anggota, maka di sinilah fungsi seorang pemimpin berjalan. Ia yang berhak memutuskannya, bukan? Tapi ini tidak berlaku, ‘beliau’ dengan arogan memutuskan sendiri bahwa strateginya-lah yang harus dijalankan. Namun pada akhirnya ketika strategi itu gagal dijalankan, strategi kami lah yang akhirnya dengan ‘terpaksa’ beliau ikuti.

Apa yang bisa dipetik dari momen itu?
Ketika sebuah organisasi berdiri (digambarkan dengan simulasi di atas), maka apapun pangkat yang dimiliki, hendaknya ia menghormati pemimpin di organisasi tersebut. Hilangkan sejenak ego yang melekat. Apa jadinya jika sebuah organisasi memiliki banyak tongkat komando, masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Tanpa kekompakan, niscaya akan sulit menghadapi tantangan yang menghadang.

Satu komando, dan didukung oleh kreatifitas, rasa tanggungjawab, kepedulian, rasa memiliki, loyalitas, dan semangat kebersamaan pasti akan tercapai ‘goal’ yang diharapkan. Operation Excellent!

Salam.

Advertisements

10 thoughts on “Jadi Pemimpin (Jangan) Arogan

  1. arogan jelas bukan lah sifat yg dipunyai oleh seorang pemimpin,
    seharusnya dia menyadari hal itu,
    kalau gak , ya gak usah jadi pemimpin, mungkin belum wakunya bagi dia utk memimpin 🙂
    salam

  2. Sebetulnya “filosofi Jawa” soal kepemimpinan sudah memberikan sinyal: “Tidak ada matahari kembar”..
    Pengalaman langsung yg saya alami di suatu organisasi jg demikian. Ada satu koordinator resmi yg diangkat, dan ada satu org lagi yg “mengatur” dari belakang, kacaulah jadinya.. 🙂

  3. Mantap …Out Boundnya Kang …

    Semoga semua bisa mengambil hikmah dari experential learning ini …

    And yes indeed …
    Jadi orang itu tidak boleh Arogan …
    Apalagi menjadi Pemimpin …
    (dan jangan dilakukan atas nama menjaga citra-image dan yang sejenisnya … karena orang suka mencampur adukkan antara pengertian Arogan dan Tegas !)(padahal itu sangat berbeda nyata)

    Operation Excellent !

    Salam saya
    And Thanks untuk pencerahannya Kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s