Berebut Air Bersih

Sekira 15-20 tahun lalu ketika saya masih tinggal di kampung halaman bersama orangtua, cukup mudah mendapatkan sumber air bersih. Tetangga kanan-kiri masing-masing memiliki sumur. Tentu saja dengan air yang jernih tak berbau. Dulu, pompa listrik masih jarang dijumpai. Alat bantu modern waktu itu mungkin hanya sebuah pompa tangan manual untuk menarik air bawah tanah. Atau, sesekali saya menikmati ‘fitness’ gratis dengan membantu kakak menimba (kami menyebutnya ‘ngangsu’) air dengan ember yang diikat tali dari ban mobil bekas. Oh, sungguh saya merindukan suasana itu.

Bahkan di beberapa sumur tetangga difungsikan juga sebagai tempat untuk memelihara ikan. Berkembang biak layaknya sebuah peternakan ikan.

Air bersih bebas melimpah, siapapun memiliki hak yang sama untuk menikmatinya.

Apa yang terjadi pada periode 5 tahun-an belakangan ini di kampung saya sungguh cukup membuat saya terhenyak. Di belakang rumah berseliweran pipa ‘paralon’ yang terhubung dengan jejeran pompa listrik. Ternyata jejeran pompa listrik itu adalah milik tetangga yang berbeda jarak 4-6 rumah dari kami.

Wow! Apakah harus sejauh itu mencari sumber air bersih? Dan ternyata memang tidak di satu titik saja hal itu terjadi. Di lokasi lain, masih di area kampung kami dengan mudah ditemui fenomena semacam ini. Ruwetnya posisi pipa dan pompa listrik cukup menunjukkan telah terjadi fenomena ‘saling berebut’ sumber air.

Mungkin kami sedikit beruntung, karena lokasi rumah kami masih mudah menemui sumber air. Bahkan, sumur -yang sudah tidak kami manfaatkan- masih dipenuhi air, meski sekarang ini tidak lagi sejernih dulu. Bahkan cenderung berbau 😦 .

Pertumbuhan ekonomi, atau para pendatang yang makin bertambah memang tak dapat kami hindari. Mungkin itu juga menjadi salah satu sebab makin berkurangnya sumber air (bersih) di kampung kami. Aliran sungai bawah tanah semakin mengering.

Pilihan terakhir kami sekarang adalah ‘terpaksa’ ikut mendaftar jadi pelanggan PDAM. Terpaksa, karena secara sadar kami perkirakan cadangan air di tanah kami tidak akan mencukupi untuk jangka panjang. Selain itu, kualitasnya pun semakin memburuk. Makin keruh dan berbau.

Akhirnya kami menyerah untuk menikmati karunia Allah -yang seharusnya gratis- ini, kami harus merogoh kocek yang tak sedikit.

Mari bersama kita jaga ketersediaan air bersih di lingkungan kita dengan melakukan hal yang sederhana saja, hematlah. Referensi tentang hal ini tersebar banyak di jagat internet. Anda tak akan kekurangan inspirasi untuk mulai menyelamatkan air bersih. Tinggal niat kita saja yang harus mulai ditumbuhkan. Dan jangan lupa ajak sahabat di sekitar kita untuk turut serta.

Air bersih untuk hidup lebih baik!


*Tulisan ini dibuat untuk menyemarakkan ‘Blog Action Day 2010‘ dengan tema ‘Air Bersih’. Wujud kepedulian blogger sedunia.

*Dukungan bisa pula melalui media twitter dengan hastag #BAD10 atau #BlogActionDay

Advertisements

15 thoughts on “Berebut Air Bersih

  1. wah…kalau bicara sumber air bersih yang terbatas,memeang sudah seharusnya kita dan seluruh lapisan masyarakat agar turut bahu membahu menjaga dan melestarikan alam.supaya sumber air bersih bukan lagi menjadi hal yang langka…

  2. Aku di kampung (Malang) biasa dengan air jernih, bebas bau-bauan ntah itu penjernih, atau bahan kimia lainnya, setelah di Bali ini baru mengerti…ternyata nggak semua tempat seberuntung kampung kami yang airnya melimpah ruah!

    Belum lagi, di sini kalau sehabis hujan airnya agak kotor, mau gosok gigi aja jijik hrs pake aqua…

    Sudah seharusnya kita menjaga air agar tetap bersih, seandainy asaj apenghijauan di galakkan, hm..sayangnya masyarakat lokal sendiri tampaknya kurang peduli (memang tdk semua sih) malah para pendatang yg nota bene berbahas ibu “english” itu yang giat bilang go green Bali….

    Sebisanya saja, bagaimana kita menjaganya…

  3. Kalau di kampung saya, dari dulu sampe sekarang sama aja kang asep, airnya gak pernah bagus, maklum di pinggir pantai, asin dan berwarna kuning. Air PDAM pun minim, jarang ngalir. Makanya orang2 kampung pada males jd langganan PDAM.

  4. Jaman dulu dan jaman sekarang beda. Dulu sih bisa pake air tanah langsung, sekarang harus PDAM. Kalo nekat ngincer air tanah, yang rugi mereka sendiri. 😦

  5. di derah tempat saya juga seperti itu, bahkan sumur yang ada cenderung bau dan sedah tidak layak pakai. Kandungannya pun sudah cukup mebahayakan kesehatan yang menkonsumsinya. Jadi alternatif akhir menggunakan air PDAM, itu juga tidak selalu mengalir. Apalagi di pagi sampai siang hari pasti kran air tidak akan keluar air. Krisis air bersih memang sedang melanda didaerah manapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s