Alas Koran dan Kursi Lipat

Sudah seminggu-an saya melihat stiker pengumuman besar yang di tempel di setiap dinding dekat pintu KRL Pakuan Ekspress. Cekidot:

klik untuk perbesar

Di pengumuman itu ada 10 gambar yang di palang merah, artinya kurang lebih begini, “Tolong ya, kalau pengen sama-sama nyaman jangan lakukan hal-hal ini”. Larangan yang disebut di gambar itu memang umum pada suatu moda transportasi massal macam kereta ini. Seperti larangan makan/minum, membawa senjata tajam/api tanpa izin, berjualan, merokok, membawa bahan berbahaya, mencorat-coretan, atau membuang sampah sembarangan.

Namun ada 2 hal jadi perhatian saya, yang pertama adalah gambar larangan mengamen. Bertahun-tahun saya jadi Anker (alias anak kereta) atau Roker (Rombongan Kereta), aktifitas ini tampaknya memang sulit dihilangkan. Entah karena memang dibolehkan oleh petugas, main kucing-kucingan, atau apa. Tapi, mereka -para pengamen- itu sebenarnya cukup menghibur, karena tidak sembarang saja mereka bernyanyi. Yang saya amatu, rata-rata mereka memang ‘profesional’ dalam mengamen. Dan poin pentuingnya adalah, mereka mengamen sebelum kereta berangkat. Yah, mungkin karena itu mereka masih diberi ‘kelonggaran’ oleh petugas.

Gambar kedua yang cukup menggelitik adalah gamar larangan duduk di lantai dan kursi lipat. Walah… Ini sih saya yakin akan sangat sulit dihilangkan. Lihat saja, saya menangkap salah satu para pelakunya :

Ups, saya juga termasuk pelaku kok… 😀 Habis mau bagaimana lagi, jika tak mendapat duduk, butuh tenaga kaki ekstra untuk menopang tubuh di perjalanan +/- 1 jam itu. Jadi, jangan heran kalau tukang koran laku keras, bukan untuk dibaca, tapi jadi alas duduk :).. Isyilah gaulnya ‘Ngampar’. Saya malah tak absen untuk selalu bawa kursi lipat di tas. Cari tempat yang pas, buka lalu kaitkan, jadilah kursi lipat itu. Tapi, jangan sekali-kali memaksakan untuk duduk di lantai atau pasang kursi lipat jika kondisi gerbong penuh sesak. Anda pasti akan disoraki oleh penumpang lain. Kecuali bagi anda yang memang bermuka badak, cuek bebek.

Pemandangan sehari-hari di Stasiun Bogor

Jika saja pihak KAI menambah armada atau gerbong, mungkin bisa mengurangi kepadatan. Belum lagi permasalahan kompleks di KRL ekonomi yang tak kunjung bisa diredakan, termasuk melubernya penumpang hingga ‘terpaksa’ naik di atap-atap gerbong.

Selamat beraktifitas!

Advertisements

21 thoughts on “Alas Koran dan Kursi Lipat

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Mungkin ini gambaran real bahwa sarana transportasi umum kita masih kurang memadai baik secara kuantitas maupun kualitas

  2. …sejauh tak ada implementasi larangan tegas maka disitu tetap saja terbuka pelanggaran…begitu pula ketika larangan itu kurang rasional dan bahkan tak didukung dengan pelayanan prima…ya pelanggaran pun akan muncul…jangan samakan dengan di negara maju yg segala macam fasilitas relatif cukup tersedia…namun coba saja ketika di akhir pekan naik kereta api,misalnya di victoria london ke brighton…para penumpang banyak yg berdiri selama hampir dua jam…dan tenang-tenang saja sambil baca buku atau koran…jadi sama saja,,,karena begitu terbatasnya fasilitas…tiap orang berupaya untuk mengoptimumkan dirinya agar nyaman,,,walau berdesak-desakan…

  3. Seharusnya sih adanya larangan terus dibarengi dengan solusi sehingga larangan tersebut tak menjadi hiasan saja adanya. Kenyataannya memang kondisi dulu dan sekarang belum terlalu banyak perbedaannya.

  4. Ternyata beda y dengan buda yang di luar negeri, kalo orang naik kereta sambil bawa koran untuk dibaca, kalo di sini bukan cuma di baca, tapi multi fungsi untuk alas duduk

  5. Saya jarang naik kereta nih…gak pernah malah…

    BTW, permisi ya, nitip praktek ilmu ngasal promosi blog…Katanya kalao makin banyak komen makin banyak nyang ngunjungi
    hehe 😀

  6. mungkin memang solusinya ya menambah gerbong saja, uang yang untuk studi banding dpr itu mending buat memperbaki fasilitas publik….

  7. Wah ada kursi lipat juga di kereta ya ?!? baru tahu aku 😆 mungkin bisa di sewakan kursi itu hitung2 buat ganti ongkos tiket.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  8. Wah wah, lumayan juga ya berdiri selama kurang lebih 1 jam… 😦
    Tapi, orang2 Jepang tahan juga lho, udah berdesakan kayak sarden di kaleng, lumayan lama juga berdiri sekitar 15-30-an menit. 😀 (pas jam sibuk)

  9. Pingback: Larangan Mencret-mencret di KRL | Wong Kam Fung

  10. Pingback: Safety Contact, Berbagi Pengalaman « Blog Asepsaiba

  11. “Kreatip” jg orang indonesa ya. Kalo gak dapet tempat duduk (resmi) ya buka kursi lipat ato nggelar koran.
    Perasaan pas gw di jepang ama eropa gak ada tuh. Gak dapet duduk ya berdiri. Mau lama jg gpp. Tetep dijabanin berdiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s