Satu Mulut, Dua Telinga

Manusia diciptakan memiliki satu mulut dan dua telinga. Mulut untuk berbicara, telinga untuk mendengar.

Sudah jadi kebiasaan di kalangan kita, ketika menghadiri suatu forum, apapun itu, banyak dari kita yang lebih asyik dengan kesibukan sendiri dibanding menyimak hal yang disampaikan orang lain di forum itu. Entah itu mengobrol dengan orang di samping kita atau -yang lebih sering- malah sibuk bermain dengan perangkat gadget modern yang kita punyai.

Sikap ini sungguh bertolak belakang dengan kebiasaan orang-orang di negara-negara luaran sana. Seorang kawan pernah berkisah bahwa di suatu forum diskusi yang menghadirkan pembicara dari Amerika, para audien sibuk dengan ponselnya masing-masing. Sang pembicara agak tersinggung, dan akhirnya sisa setengah sesi di forum itu di isi dengan membahas perilaku yang kurang baik itu. Apalagi forum itu tidak gratis, bahkan dibayar perusahaan. Orang-orang di luar sana malah berbondong-bondong datang jika ada sebuah forum yang memang menguntungkan, meski gratis mereka serius menyimak isi forum, apalagi jika froum itu berbayar. Di Indonesia, ini jarang terjadi. Di sini, penghormatan terhadap orang yang berbicara di suatu forum sangat kurang.

Terkadang, kita asyik saja bermain dengan ponsel. Apalagi sekarang ini ketika media sosial membombardir internet. Mengacuhkan pembicara atau orang lain dalam sebuah rapat sering dilakukan. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Minimal cukup dengan diam. Ya, jika tidak ingin mengganggu yang lain, cukup diam saja menyimak materi yang disampaikan. Mungkin itu hal termudah yang bisa dilakukan. Hormati orang yang sedang berbicara dengan -cukup- kita dengarkan saja. Jika memang meendesak, keluar saja dari forum, lakukan aktifitas itu di luar forum, jadi tak mengganggu yang lain.

Itulah kenapa mulut diciptakan hanya satu, dan telinga ada dua. Allah pasti memiliki maksud dalam setiap kreasinya.

Advertisements

21 thoughts on “Satu Mulut, Dua Telinga

  1. banyak yang tahu tapi nggak mau tahu, asik sendiri2 kayaknya lebih mengasikkan daripada ndengerin orang ngomong, apalagi kalo materi yg disampaikan membosankan, apalagi audiennya ratusan ato ribuan πŸ˜‰

  2. …memang bisa jadi biang keladinya adalah forum yg besar,pembicara kurang pandai berkomunikasi, topik tak menarik,dan tak ada selingan…namun demikian apapun mulailah dari diri kita,audiens, yang harus melatih diri apa itu yg disebut dengan mendengar dan mendengarkan…harus terdorong untuk memahami apa tujuan/manfaat dan isi materi dari pertemuan…menghormati orang lain (pembicara dan audiens) dengan tidak berbicara atau sibuk sana-sini tak fokus…

  3. sepertinya memang dimana2 begitu ya sob, apalagi klo ada suatu forum bukannya nanya malah ngegosip itu yang parah bgt. klo gw sih mending diam, mendengar dan mencoba mencerna dalam pikiran..

  4. Karena saya dulu lumayan sering bicara di depam umum (ntah itu nge-MC atau sekedar cuap-cuap di depan umum) sangat tidak suka dicueki maka meski saya tidak begitu tertarik dengan topik pembicaraan itu saya berusaha tetap menyimak, dan seringnya saya mencari-cari sisi menarik dari topik itu dan kalau bisa saya akanmencatat-catat apa yang ingin saya tanyakan, tentunya kalau ada forum tanya jawabnya…

  5. ya makanya setiap kali dosen ngajar saya perhatiin terus
    takut kualat tar pas ngajar ada mahasiswa/i yg asik sendiri
    tapi dasar namanya saya, kadang tangan suka gatel hehe
    dan yach kejadian beneran pas kita kuliah ada mahasiswa/i yg asik sendiri dengan gadgetnya

    kalo sudah gitu cara yang paling ampuh adalah memberikan pertanyaan kepadanya πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s