Lawang Sewu

Ia memperkenalkan namanya, Bernad (entah Bernard atau memang Bernad). Ia lebih mirip orang Ambon ketimbang jawa. Kulitnya yang coklat dan rambutnya yang agak kertiting menunjukkan hal itu. Kami berkenalan keetika saya berniat masuk ke salah satu gedung peninggalan bersejarah di Semarang. Lawang Sewu, demikian nama gedung itu lebih dikenal.

Awalnya saya belum faham benar jika gedung ini ternyata merupakan salah satu destinasi wisata di kota Semarang. Saya pikir, gedung ini hanyalah gedung tua ‘biasa’ yang ‘diabaikan’ seperti halnya di banyak tempat di Indonesia. Iseng saya memasuki pelataran depannya. Berfoto-foto sejenak. Saya disapa oleh seorang wanita berpakaian santai. Ia menawarkan apakah saya mau masuk ke dalam atau tidak.

Dengan membayar Rp 10.000 kita bisa masuk dan melihat-lihat ke dalam gedung ini. Disarankan memanfaatkan jasa guide dengan biaya Rp 25.000. Hm, awalnya ragu. Masa jika ‘hanya’ melihat-lihat saja harus membasar sebesar itu. Tapi rasa penasaran saya menghapus keraguan itu. Jadilah saya bertemu dengan mas Bernad.

Lawang Sewu memang lebih terkenal karena keangkerannya. Nama Lawang Sewu memang identik dengan arsitektur gedung itu yang memang memiliki banyak daun pintu. Kata Mas Bernad, sebenarnya jumlah daun pintunya bukan 1000 melainkan sekitar 800-an daun pintu (dan tidak semuanya pintu, karena ternyata daun jendela yang besar-besar pun dianggap pintu).

Lorong-lorong Utama

Keramahan senyum dan penjelasan yang mendetail oleh Mas Bernad tentang Lawang Sewu semakin menguatkan rasa penasaran saya untuk menjelajahi lebih ke dalam lagi. Setelah melewati pintu utama, kita akan menemukan miniatur gedung lengkap di atas meja besar, di sekelilingnya tertempel gambar, foto, dan biografi sejarah gedung ini.

Dibalik ‘keangkeran’-nya, ternyata Lawang Sewu adalah salah satu gedung bersejarah dalam perjalanan bangsa ini, terutama di bidang transportasi per-kereta api-an di Indonesia. Ya, di gedung inilah prototipe sistem KA Indoensia dicetak. Gedung yang dibangun pada 1904 dan selesai pada 1907 tersebut pada awalnya digunakan sebagai kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij), atau semacam jawatan perkerata-apian Hindia Belanda (Indonesia jaman dulu).

Masih menurut Mas Bernad, area Lawang Sewu terbagi menjadi 3 area, yaitu gedung A sebagai kantor utama NIS, gedung B sebagai kantor untuk perusahaan-perusahaan swasta, dan gedung C sebagai area tunggu.

Saya sangat menyukai segala hal yang berbau sejarah, seperti gedung ini. Malah sama sekali tak merasakan kesan seram atau angker ketika memasukinya, karena saya benar-benar terpesona melihat keindahan kreasi arsitek profesional jama Belanda dulu. (Mungkin karena banyak orang dan siang hari saya tak merasa seram.. πŸ™‚ ).

Gedung utama memiliki 3 lantai dan lantai bawah tanah. Setiap lantai memiliki fungsinya masing-masing. Lantai 1 dan 2 banyak berfundi sebagai kantor, ruang pimpinan NIS sendiri terletak di lantai 2 dan paling luas di antara ruang yang lain. Daun pintu dan jendela yang lebar dan tinggi merupaka khas bangunan Belanda jaman dulu. Angin sejuk semilir, inilah salah satu keunggulan banguinan jaman dulu, tak perlu AC untuk menjadi sejuk dalam ruangan. Lantai 3 sebentulnya adalah atap gedung, tanpa fungsi khusus. Ternyata, rangka atap terbuat dari besi. Saya merasa takjub dibuatnya. Ternyata rangka besi sudah ada dari dulu. Konon di lantai ini adalah tempat eksekusi mati para pejuang kemerdekaan semasa pendudukan Jepang.

Rangka Baja Lawang Sewu

Daun pintu dan jendela semuanya terbuat dari kayu jati. Kayu jati merupakan salah satu bahan lokal selain pasir, genteng, batu granit, dan bata. Besi, kaca, plafon, semuanya didatangkan dari Belanda.

Tapi, yang menyebalkan dari ‘tour’ singkat ini, untuk lebih ‘masuk’ menjelajah ke lantai bawah masih harus merogoh kocek Rp 10.000 belum termasuk guide Rp 20.000. Akhirnya saya lebih memilih mendengar kisah lantai bawah ini. Tinggi lantai bawah sekitar 2 meter menyesuaikan tingg orang Belanda. Awalnya difungsikan sebagai area penampungan air. Namun di masa penudukan Jepang dirombak menjadi area tahanan, dibuat ruang-ruang tahanan sempit berukuran 1×1 m2. Pengap tanpa sedikitpun cahaya, bahkan di siang hari. Saya hanya sempat melongok pintu masuknya saja yang terlihat lantainya agak basah. Di area ini sering dipakai oleh para ‘pehobi’ dunia mistis dan gaib, termasuk untuk acara-acara TV itu.

Saya sendiri tidak membayangkan hal-hal mistis macam itu, tapi terbayang betapa tersisksanya para pejuang yang dijebloskan ke tahanan bawah tanah itu. Bayangkan, terkurung dalam ruang pengap, gelap, dan hanya cukup untuk jongkok, berhari-hari tanpa makan-minum. Semoga arwah mereka, para pejuang yang wafat di tempat itu diterima di sisi-Nya.

Saat berkeliling Lawang Sewu ditemani Mas Bernad, sesekali saya pejamkan mata, lantas membayangkan saya melesat melintas ruang waktu berada pada saat gedung ini masih aktif sebagai kantor NIS, mungkin sekira tahun 1910-an. Orang-orang ‘londo’ berseliweran dengan pakain masa-masa itu, menghisap rokok di ‘cangklong’. Sesekali lewat orang-orang pribumi dengan blangkonnya, sepertinya mereka para bangsawan. Begitu megah suasana ruangan itu. Pasti gedung yang awalnya berwarna oranye -warna kebesaran Belanda- ini merupakan gedung termewah di masa itu.

Sayang, saat saya berkunjung ke Lawang Sewu, sedang dilakukan renovasi besar-besaran. Renovasi tanpa sedikitpun merubah bentuk aslinya. Menurut Mas Bernad, awalnya kontraktor yang mengerjakan renovasi meminta area ini ditutup sementara untuk kunjungan wisata. Namun desakan para pekerja, guide, dan lainnya yang mengais rezeki di Lawang Sewu mampu merubah larangan tersebut. Dengan catatan tidak mengganggu pekerjaan, dan selalu utamakan keselamatan. Pengerjaan renovasi sendiri atas kerjasama Pemda Jateng dan pemerintah Belanda, tidak tanggung-tanggung menyertakan arsitek dari Belanda.

Gedung ini telah berkali-kali beralih fungsi sebelum difokuskan sebagai salah satu bangunan bersejarah destinasi wisata di Semarang. Pernah dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI, sekarang PT KAI), sebagai markas KODAM IV Diponegoro, pernah pula sebagai Kanwil Dephub Jawa Tengah. Hingga akhirnya terbengkalai, dan mungkin dari situlah popularitas Lawang Sewu lebih dikenal karen keangkerannya.

Gedung bersejarah ini sangatlah indah menurut saya. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari gedung ini. Saya miris mendapat fakta: di google, ketika anda mencoba kata kunci ‘lawang sewu’ maka sebagian besar yang akan anda temui adalah kisah-kisah ‘seram’, termasuk foto-foto bahkan video di youtube. Semestinya, gedung ini menjadi aset berharga yang patut kita hormati keberadaannya dengan cara memeliharanya dan melihatnya dari sudut pandang yang lebih logis, yaitu bahwa gedung ini bisa bercerita banyak tentang sejarak perjuangan Indonesia menggapai kemerdekaan.

Mas Bernad, terima kasih sudah menemani kunjungan saya di Lawang Sewu. Titip salam untuk kawan-kawan penunggu di Lawang Sewu ya… Oopss… πŸ˜€


HAsil jperat-jepret :

Lokomotif Depan Gedung Lawang Sewu

Seperti melihat cermin

Baca juga Lawang Sewu diΒ Wikipedia

Advertisements

29 thoughts on “Lawang Sewu

  1. Kang Asep …
    Mendengar gedung ini yang terbetik didalam benak saya adalah …
    ini adalah gedung yang terkenal angker …
    Saya belum pernah masuk kesana …

    Dan memang betul … sebetulnya gedung ini seharusnya dipandang sebagai salah satu gedung peninggalan sejarah ya Kang …

    BTW
    Kamera kang asep tidak menangkap “sesuatu” Kang ?

    πŸ™‚

    Salam saya

    • Harapannya sih begitu om.. πŸ˜€
      Tapi tampaknya teknologi kamera HP sy tdk mumpuni utk menangkap ‘itu’ πŸ™‚

      Oya, pdhl kalo dibuat macam museum bank mandiri kek di jakarta itu, keren loh om…

  2. Sering mendengar cerita tentang Lawang Sewu ini, tapi membaca dan melihat foto-foto di posting ini saya malah mendapat kesan yang berbeda.
    Kesan mistis itu sama sekali tidak ada.
    Berganti dengan keingintahuan dan rasa penasaran, kapan ya saya bisa berkunjung ke Semarang dan singgah di Lawang Sewu ini…?
    Trima kasih informasinya πŸ™‚

  3. Itu yang dipojok atas itu apa ya? Jubah putih dan rambut panjang yg membelakangi kang asep itu..? Emang gak keliahatan ya kang asep? Sama, saya juga gak keliatan.. πŸ™‚

  4. Cerita lawang sewu aku ingat jaman kecil dulu (th. 60 an), di seberang lawang sewu ada semacam panggung bundar terbuka ada railingnya, beratap (gazebo kali ya, nama kerennya) untuk belanda main musik tiap hari minggu. Sayang dibongkar , korban pelebaran jalan Pemuda/Imam Bonjol.
    Salam mas.

  5. gak tau kenapa setiap orang denger nama Lawang Sewu langsung aja deh nyangkut-nyangkutin ke penampakan. Anyway Kang Asep apa emang karena itu pergi ke Lawang Sewu nih hahahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s