Harga Diri Bangsa vs RIM

Sewaktu Menteri Kominfo Tiffatul Sembiring berkicau lewat akun twitternya @tiffsembiring tentang ultimatum ke pihak RIM, tak henti-hentinya beliau menerima hujatan dan bahkan tak sedikit cacian mampir ke akun twitternya lewat tag #AntiTiffy. Bahkan sempat jadi trending topic di hari Minggu. Para pengguna blackberry langsung tercengang mengetahui ada ancaman dari Depkominfo untuk memblokir akses brwoser blackberry jika tuntutan filtering pornografi diabaikan. Tanggal 17 Januari 2011 adalah tenggat waktu terakhir.

2,5 juta pengguna merupakan pasar yang sangat dominan di kawasan Asia-Pasifik. Maka wajar saja, jika kita agak ‘rewel’. Toh, semua tuntutan itu pun masih dalam batas kewajaran. Beberapa tuntutan memang sudah dipenuhi RIM seperti membuka perwakilan, penggunaan konten lokal, atau pemberdayaan SDM lokal. Namun ada tuntutan yang selalu saja diulur-ulur seperti pembangunan server dan filtering pornografi. Nah, yang teralhir itulah yang sedang hangat sekarang ini.
Saya sendiri adalah pengguna handset blackberry ini, dan saya setuju jika RIM masih ‘ngeyel’, segera saja tutup akses internetnya. Kenapa? Beberapa alasan saya:
Pertama, inilah saatnya tunjukkan bahwa bangsa ini punya martabat dan harga diri. Jangan biarkan RIM berbuat seenak jidatnya. Saya setuju dengan kicauan pak menteri tentang nasionalisme itu. Kemana kebanggan ‘Garuda Di Dadaku” yang tempo hari membahana di seantero negeri ini?

Kedua, roda bisnis tak sepenuhnya tergantung pada alat komunikasi yang katanya ‘smart’ ini. Lagi pula, yang di blokir nanti (seandainya jadi) hanya pada layanan akses browsing internet saja. BBM-an dan email masih tetap normal.

Ketiga, untuk saya sendiri, akses internet hanya digunakan untuk baca berita. Dan pensedia konten berita sudah mempunyai aplikasinya sendiri macam detik.com dan kompas.com. Jadi, tak masalah kalau akses browser diblok. Kalaupun akses ke aplikasi tersebut diblok, toh masih bisa baca berita di koran atau web lewat PC.

Dari ketiga alasan itu, tentu saja alasan pertama yang menjadikan saya termasuk yang pro akan ultimatum Kominfo terhadap RIM. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. RIM mengais dolar di negeri kita, sepatutnya mereka pun tunduk akan aturan tuan rumah.

Saya jadi ingat kutipan sesorang yang berjualan merchant kaos di sebuah forum, “I Still Alive without Blackberry“.

Advertisements

9 thoughts on “Harga Diri Bangsa vs RIM

  1. “I Still Alive without Blackberry”, saya setujuh banget tuh.. buktinya saya sampe sekarang gak punya yang namanya BB, tapi tetep enjoy aja…. :mrgreen:

  2. Memang RIM seharusnya menjunjung tinggi langit yang dipijaknya dimanapun berada, Apalagi keinginan menkominfo juga tidak bertentangan dengan falsafah maupun budaya bangsa Indonesia…
    Yang saya gak ngerti mah warga Indonesia yang kontra bahkan sampai mencaci Pak Tiffatul…
    Padahal, dengan berinternet dengan BBnya, mereka bakalan tahu apa sih 7 tuntutan atau bahasa media-media Indonesia mah 7 Ultimatum Menkominfo??
    Cz, berawal dari tahu hal itu, kayaknya kecil kemungkinan mereka kontra dengan Tuntutan Menkominfo terebut…
    seharusnya mah mereka Baca berita bukan hanya dari media yang hanya mempertajam kontroversi saja..tapi cari berita yang benar2 primer dan netral dalam memberitakan…banyak kok di Internet…
    Agar tahu duduk persoalan sebenarnya tentang tuntutan tersebut…apalagi jika dihubungkan dengan Harga diri bangsa seperti postingan Sobat kita ini….
    Yup, dari metadatanya, 68% lebih artikel ini wajib dibaca bagi mereka yang kontra dengan tuntutan Menkominfo…
    Salam kenal….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s