Tips Membawa Sepeda (Lipat) di KRL

Hampir setengah tahun ini alhamdulillah saya masih konsisten ber-b2w, diselingi moda transportasi komuter KRL Pakuan Ekspress. Sesekali bergabung dalam rombongan Selebor (Sepeda Lipat Bogor), tapi lebih sering sendiri dengan jadwal KRL yang berbeda.

Ada cerita suka dan duka ketika membawa sepeda lipat (seli) masuk dalam gerbong KRL. Intimidasi oknum kondektur yang meminta karcis dobel, pandangan sinis dari penumpang lain, hingga seli ditendang-tendang (alhamdulillah saya hanya pernah terkena kasus yang pertama, itu juga baru sekali). Namun, bagian yang paling saya suka adalah ketika ada orang lain yang antusias mengajak ngobrol tentang sepeda, saya akan menjawab setahu yang saya mampu.

Nah, saya punya beberapa tips agar nyaman membawa seli (bukan sepeda gunung) di KRL:

  1. Usahakan selalu berangkat lebih awal, sehingga masih tersedia banyak space di gerbong KRL untuk meletakan seli kita, dan tidak mengganggu penumpang lain.
  2. Selalu membeli tiket. (Ya iyalah.. Ini sih peraturan dasar .. 🙂 ).
  3. Sapalah petugas penjaga pintu masuk stasiun, minimal dengan senyuman. Berdasarkan pengalaman, masih ada ‘oknum’ petugas yang masih antipati terhadap para pekerja bersepeda.
  4. Jika sudah terlanjur terlambat, namun masih ada sedikit celah di gerbong, jangan pernah lupa untuk selalu mengucap kata ‘permisi’, ‘maaf’, dan sejenisnya ketika penumpang lain merasa terganggu dengan kehadiran seli anda.
  5. Jangan memaksakan untuk masuk ketika mendapati gerbong sudah penuh sesak, dan tak ada celah sedikitpun. Lebih baik beralih pada jadwal berikutnya. Ini adalah konsekwensi atas keterlambatan anda.
  6. Pun ketika turun, tetap tunjukan good attitude kita, karena bagaimanapun harus diakui kehadiran seli dalam gerbong sudah pasti mengganggu kenyamanan penumpang lain.

Dalam kasus tertentu, di atas gerbong KRL, seorang teman pernah dimintai karcis dobel oleh seorang ‘oknum’ kondektur. Meski peraturan tentang hal ini masih ‘abu-abu’, tapi sebaiknya ‘intimidasi’ oknum-oknum itu jangan dilawan dengan ‘otot’ (alias saling ‘ngotot’). Tempatkan saja posisi kita pada posisi yang tidak tahu-menahu tentang peraturan itu. Dan, sst.. Sedikit tips, jika menemui hal itu, bilang saja begini, “B2W-Indonesia masih merumuskan skema tentang hal ini dengan PT KAI dan Kementerian Perhubungan”.. Beberapa teman (saya pun menerapkannya, dan terbukti ampuh! Hehe.. ).

Semuanya kembali pada diri masing-masing kok, apapun aktifitasnya, termasuk bawa sepeda lipat di KRL, jika kita mampu menunjukkan perilaku yang baik dan sopan, secara otomatis pasti akan memberi memberi kenyamanan pada diri kita sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi, bersepeda yuk!

Advertisements

11 thoughts on “Tips Membawa Sepeda (Lipat) di KRL

  1. nice post kang! aku pengen nyoba hari minggu pagi naik kereta ke gambir, baru deh gowes thamrin-sudirman.. selama ini takut banget (terutama takut diminta karcis double) wkwkwk masa iya sepedanya dipangku -_-

  2. salut dech mas sanggup naik KRL sambil bawa SELI, kalau aku sich ngebayangin naik KRLnya aja bawa diri sendiri udah berasa ribet apalagi pas jam-jam padat,,,,,

  3. Itu diseriusin aja gan,
    soal “skema tentang hal ini dengan PT KAI dan Kementerian Perhubungan”.
    Anggota BTW butuh kepastian (hukum) soal ini.
    Biar ga ada lagi “wilayah abu-abu”.
    Jadi sama2 enak kan ?

  4. wah telat ne…masih nyepeda seli + komuter g mas? sy baru mo nyoba, komuter pagi/siang grogol-tangerang siang/malam tangerang-grogol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s