[Film] Serdadu Kumbang | Menyindir Sistem Pendidikan

Zakaria, ayah dari seorang  anak yang berprestasi, dengan piala dan piagam penghargaan bertumpuk, marah meledak-ledak di pelataran sekolah SMP anaknya. Menyemprotkan amarahnya tepat di depan muka Pak Opan, sang kepala SMP tersebut. Minun, anak cerdas yang dibangga-banggakannya tak lulus Ujian Nasional (UN), pun semua teman seangkatannya, 100% tidak lulus.

Secuil kisah tersebut adalah adegan yang paling berkesan bagi saya ketika menyaksikan film Serdadu Kumbang. Selain tentu saja, banyak pesan-pesan positif lain yang sangat bermakna. Adegan tersebut memang berisi pesan klasik yang sering diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan nasional tentang bobroknya sistem Ujian Nasional. Klasik, tapi memang sangat tepat Ari Sihasale (Ale) mengangkatnya lagi dalam filmnya ini. Perjuangan TIGA TAHUN, hasilnya ditentukan hanya dalam waktu TIGA HARI saja.

Gantungkan cita-cita setinggi langit, jangan cuma sampai di dahan-dahan pohon saja. Amek, Acan, dan Umbe dengan berbagai keterbatasan dan kelebihannya berhasil ditampilkan oleh Ale menjadi contoh yang baik bagi anak-anak bangsa ini untuk tidak pernah berhenti bercita-cita.

Sedikit kritik dari saya yang awam di dunia perfilman, Serdadu Kumbang masih seperti film Indonesia kabanyakan, yang plot dan alur ceritanya terkesan kabur dan tidak jelas. Perpindahan plot terkesan saling loncat. Pun pengenalan tokoh-tokoh dalam film yang terkesan seadanya. Sebagai contoh, tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra (saya sampai lupa nama tokoh itu) yang awalanya saya kira memiliki bagian yang kuat dalam film ini, hanya tampil selintas saja tanpa meninggalkan pengaruh pada tema film. Mungkin ini bisa difahami, mengingat PT Newmont Nusa Tenggara (perusahaan tempat sang tokoh bekerja) turut mensponsori film ini.

Namun, pada akhirnya saya pribadi tetap memberikan dua acungan jempol bagi duet kompak Ari Sihasale dan Nia Zulkarnae yang konsisten dan memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi bagi perbaikan pendidikan nasional. Paling tidak ini dibuktikan dengan karya-karya mereka yang cukup bagus, sebut saja Denias Senandung di atas Awan, Garuda di Dadaku, Liburan Seru (2008), King (2009), dan Tanah Air Beta (2010).

Semoga makin banyak sineas-sineas negeri ini yang menghasilkan karya serupa di tengah serbuan film-film horor yang sama sekali tak mendidik.

Advertisements

16 thoughts on “[Film] Serdadu Kumbang | Menyindir Sistem Pendidikan

  1. setuju kang, saya lebih seneng film anak indonesia, ketimbang lihat film horor atau sinetron.. dan kita mesti bangga, karena masih ada penerus bangsa yang kreatif juga inovatif.

  2. saya selalu suka dengan film yang seperti ini mas… tapi saya juga heran kebalnya pemerintah tentang pendidikan walau sekalipun sudah di sindir sampai sepeerti ini….

  3. Seperti ini seharusnya film2 yang meghiasi layar bioskop Indonesia. Bukannya film2 hantu gak jelas yang bingung akan kepribadiannya… Masa Pocong kok ngesot!!! 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s