Jangan Kalah sama Ego

Seorang kawan sesama pengguna KRL Jabodetabek pernah berkeluh tentang kondisi KRL sekarang. Ia terpaksa menjadi egois akibat imbas penghapusan KRL Pakuan Ekspress yang sekarng berubah menjadi Commuter Line (berhenti tiap stasiun), akibatnya kondisi gerbong KRL selalu sesak dan waktu perjalanan bertambah.

Kawan saya ini sebetulnya adalah sosok yang santun (kelewat santun malah). Sosok menyenangkan yang selalu tersenyum meski pada orang yang baru kenal. Lantas apa hubungannya dengan perubahan sistem KRL?

Jika dengan Pakuan Ekspress hanya butuh waktu 45-60 menit saja untuk tujuan Bogor-Gambir, dan relatif tidak sesak (meskipun sesak, tapi waktu tempuh lebih cepat. Dulu, jika kebetulan ia dapat duduk di KRL Pakuan, maka dialah yang paling sigap mempersilakan tempat duduknya bila melihat ada perempuan, manula, ibu hamil yang berdiri. Tapi sekarang, ia sedih dengan kondisi yang memaksanya untuk menjadi egois. Jika sekarang, dengan mode Commuter Line, ia dapat duduk, jiwa egois terpaksa mengalahkannya. Duduk, pejamkan mata, lantas tak peduli lagi. Dengan pejam mata atau tidur, maka sedikit menghibur dirinya yang telah tunduk pada rasa egoisme yang tak mau berbagi tempat duduk. Kecuali memang tak tertahankan lagi ngantuknya šŸ™‚

Terkadang, tanpa disadari kita pun sering melakukannya bukan? Terkadang ada rasa egois untuk memanjakan diri sendiri tanpa peduli orang lain, yang penting tujuan tercapai, kita senang, peduli amat dengan orang lain. Kepedulian seolah menjadi barang langka. Korupsi merajalela tak terlepas dari semakin dangkalnya rasa kepedulian. Betapa tidak, para koruptor makin tak punya naruni dan tak peduli dengan kondisi negara yang makin terpuruk, hanya untuk memuaskan ego pribadinya semata.

Semoga dengan tulisan ini, mengingatkan saya untuk berbagi tempat duduk di KRL, eh untuk menekan jiwa egois agar lebih peduli dengan keadaan sekitar, lebih menghargai orang lain, dan juga tidak melulu memanjakan diri pribadi. Amin…

Advertisements

6 thoughts on “Jangan Kalah sama Ego

  1. Berarti bertambah satu lagi orang yang (dipaksa) egois di negeri yang katanya menjunjung tinggi nilai2 ketimuran ini. Tidak heran, keadaan dan orang2 yang harusnya menjadi panutan sering kali memaksa kita untuk demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s