Stand Up Comedy vs Komedi ‘Tradisional’

Sudah sebulanan ini saya sedang gandrung melihat-lihat video perform stand-up comedy di youtube. Beberapa comic (sebutan buat para performer standup comedy) sungguh mampu mengocok perut, dengan materi yang dibawakannya, sebut saja Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dll. Coba saja search di youtube, maka akan kita temukan banyak video perform para comic yang memang sepertinya sengaja diunggah oleh @StandUpIndo (komunitas pecinta stand-up comedy Indonesia) untuk lebih memperkenalkan salah satu model tontotan menghibur ini. Bahkan, KompasTV memgadakan kontes pemilihan comic-comic berbakat terbaik di Indonesia.

Membaca berbagai komentar pada video-video di youtube itu, banyak yang mengapresiasi alternatif tontonan komedi ini di tengah boomingnya tayangan komedi ‘tradisional’ macam Opera van Java, Comedy Project, atau sejenisnya. Mereka banyak menyebut jika standup comedy menghadirkan komedi cerdas tapi tetap mampu mengocok perut. Tidak sedikit pula yang ‘mencela’ komedi ‘tradisional’.

Harus diakui, materi segar yang dibawakan pada standup comedy memang padat berisi, update, dan blak-blakan. Bahkan sindiran-sindiran kritis sering terlontar. Atau materi yang mungkin bagi sebagian orang sangat ‘nyeleneh’ dan sensitif, mampu dibawakan dengan bahasa komedi yang cerdas dan segar. Contohnya adalah kampanya legalisasi ganja yang sering dibawakan dengan kocak oleh @pandji pada beberapa perform-nya. Wajar, jika ada yang bilang standup comedy tidak cocok untuk penonton yang memiliki wawasan sempit.

Tapi, menurut saya sangat tak adil dengan membandingkan standup comedy dengan komedi ‘tradsional’, apalagi mencela jenis komedi yang terakhir saya sebut. Karena dalam penampilan lawakan-lawakan tradsional pun tidak melulu hanya berisi banyolan-banyolan konyol, atau saling mencela, dorong-dorongan sampai jatuh, dll. Di balik itu banyak pesan-pesan moral yang mereka sisipkan.

Sebagai penonton, kemunculan kembali standup comedy tentunya sebuah kentungan karena bisa jadi alternatif tontonan menghibur. Sayang, penampilan stand up comedy baru terbatas di cafe-cafe, atau unggahan video youtube saja. Meski sudah masuk televisi, baru sebatas Broadcast TV macam KompasTV. Tapi sepertinya tinggal menunggu waktu saja sampai stand up comedy hadir di saluran televisi swasta nasional.

Advertisements

7 thoughts on “Stand Up Comedy vs Komedi ‘Tradisional’

  1. Saya juga termasuk yang kepincut sama standup comedy. Dan acara di Kompas TV kini menjadi jadwal wajib buat saya.

    >>Dukung pulau Komodo jadi 7 Keajaiban Dunia. Cukup dengan SMS, ketik KOMODO kirim ke 9818. Kirim sebanyak-banyaknya tiap hari hingga 11 November 2011.
    (Biaya SMS hanya Rp. 1 dari nomor Telkomsel, Flexi dan Indosat, dan Rp. 0 dari nomor XL)

  2. Saya baru beberapa kali melihat video stand-up comedy. Sebenarnya saya turut tertawa juga melihatnya, namun saya rasa guyonannya terlalu berani. Apakah mereka tidak khawatir ada yang menuntut karena pencemaran nama baik ya?

  3. stand up comedy saat ini menurut saya kebanyakan adal tontonan utk “dewasa”, beberapa msh suka sekali mengsung topik menjurus ke “sara” dan “saru”.
    meskipun saya tetap suka, tp bukan pada bagian itunya 🙂

  4. Pingback: stand up comedy « diandar's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s