#Kamseupay | Fitnah dibalik Komentar

Dalam dunia blogging, salah satu aktifitas yang cukup ‘digemari’ adalah blogwalking. Mengunjungi blog orang lain, entah itu memang sudah kenal, atau bahkan baru pertamakali mengunjungi menghadirkan nuansa tersendiri. Bagi sebagian blogger, rutinitas ini malah mengkin manjadi sebuah ‘ritual’ wajib yang harus dilakukannya disela-sela ia menulis di blognya. Karena pada hakikatnya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Begitupun seorang blogger, ia membutuhkan pembacanya agar pesan yang ingin disampaikan melalui tulsannya bisa terjembatani.

Blogwalking bagi blog yang memang sudah ‘dewasa’ dan malah dtunggu-tunggu tulisannya mungkin sudah menjadi teman masa lalu, karena tanpa saling berkunjung pun pembaca sudah bejibun membaca tulisannya.

Tapi hakikat blogwalking bukan hanya bertujuan sebagai pemikat agar blog kita juga dikunjungi. Tapi hendaknya blogwalking menjadi sarana blogger untuk menggali inspirasi dari blog orang lain.

Blogwalker yang baik biasanya akan meninggalkan komentar yang tidak asal. Karena dari komentar yang ditinggalkannya, sebenarnya kita bisa tahu seberapa serius ia membaca tulisan kita. Terkadang kita temui komentar yang asal tulis saja, karena memang tujuannya hanyalah berusahan untuk memperbanyak jejak di blog-blog orang lain dengan harapan blognya dikunjungi balik. Berbeda jauh dengan blogwalker yang baik, komentar yang ditinggalkannya secara utuh menggambarkan bahwa ia memang benar-benar membaca dengan sungguh-sungguh tulisan blog yang ia sambangi. Dalam hal ini, silahkan anda belajar dari salah satu blogger panutan saya, Om Enha.

Berkomentar pada sebuah blog, tidak jauh berbeda dengan keseharian dalam hidup. Tentu ada norma dan etika yang juga mesti dijunjung tinggi. Komentar yang mengandung unsur penghinaan, SARA, cemoohan, lebih baik dihindari. Jika memang tidak sepakat dengan isi tulisan yang kita baca, sebaiknya ungkapkan dengan bahasa yang santun, kritikan atau sindiran. Tidak provokatif. Meski semuanya memang berulang pada individu masing-masing. Wong tidak ada yang melarangnya kok.

Benar, memang benar kita bisa bebas saja menuliskan sesuatu di media-media sosial. Tapi hukum masyarakat di luaran ternyata lebih ‘gila’. Sudah sering kita baca berita mengenai kasus-kasus kriminal yang diakibatkan karena hal ‘sepele’ itu. Seseorang tidak terima dengan status atau komentar pada status akun facebook, misalnya. Kemarin saja (saya hanya baca sekilas judulnya di detik.com), ada orang yang membunuh temannya karena tidak terima dengan komentar pada status facebooknya. Gila!

Kolom komentar juga bisa menjadi sumber fitnah. Ini terjadi nyata dialami kawan-kawan blogger saya, @maulanaharris dan @nonadita. Blog dengan platform wordpress memiliki fasilitas moderasi komentar. Bahkan bisa mengeditnya. Kemampuan edit komentar itu yang menjadi sumber malapetaka yang menimpa kawan saya itu (kronologis bisa baca di blog ini).

Kasus tersebut, jika diibaratkan dalam kehidupan nyata misalnya begini, Anton menceritakan kisah kesuksesan Budi pada Charly, lalu Charly berkomentar memuji kesuksesan Budi. Tapi, oleh Andi malah memutarbalikkan komentar Charly ketika bertemu Budi. Pada Budi, ia menceritakan bahwa Charly sangat tidak suka dengan kesuksesan Charly, bahkan ditimpali dengan seakan-akan Budi dituduh berbuat curang demi kesuksesannya. Nah, di sini siapa yang jadi korban? Tentu saja si Budi, bukan?

Dalam konteks kasus artis MH tersebut, saya (dan saya yakin sebagian besar kawan-kawan blogger lain) tidak mepedulikan persetueruannya dengan selebrtis lain. Yang membuat kami sangat kecewa adalah tindakannya mengubah komentar, lalu dibelokkan 180 derajat sehingga komentar ‘jadi-jadian’ itu berisi kalimat yang menjelekkan/memfitnah orang lain yang sama sekali mereka tidak mengenalnya (baca klarifikasi nonadita).

Menurut saya (sebagai blogger), ini adalah hal yang SANGAT SERIUS, dan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kebetulan blog MH tersebut dibuat pada layanan blog lokal yaitu blogdetik. Perilaku mengubah komentar tersebut jelas-jelas menyalahi panduan yang telah ditetapkan oleh official blogdetik :

Tapi saya pribadi kecewa dengan admin blogdetik, karena tidak benar-benar menegakkan peraturan yang mereka buat sendiri. Sudah jelas-jelas pemilik akun blog itu melanggar peraturan tersebut (baca poin 2). Tapi hingga saat saya menulis ini, akun blog tersebut tetap saja aktif. Komentar-komentar yang berisi fitnah seta komentar klarifikasi dari nonadita sudah dihapus oleh pemiliknya. Meski dengan cerdik, Harris Maulana telah mendokumentasikan screenshot blog tersebut. Sebelum dan sesudah komentarnya dimoderasi.

Sampai sekarang, saya juga tidak tahu siapa sebenarnya pemilik blog tersebut. Apakah memang asli, atau hanya seseorang yang berusaha medapat keuntungan dari kasus ini. Yang jelas, bagi saya pribadi keberadaan blog tersebut cukup memprihatinkan. Belum usai kisruh tulisan yang melibatkan kawan saya itu, sudah hadir tulisan selanjutnya yang sama saja bernada provokatif dengan bahasa yang kasar dan tak beretika. Anda bisa menilainya sendiri dengan membaca tulisannya yang ini (Ups, kok tulisannya malah di kolom komentar ya…).

Mungkin akan sedikit lebih bijak jika komentar yang dirasakan kurang nyaman atau tidak pantas ditampilkan, dimoderasi saja (simpan di dashboard blog) atau dihapus sekalian. Ketimbang melakukan fitnah dengan mengubah isi komentar tanpa terlebih dahulu meminta ijin pada si empunya komentar.

Tapi, yang sedang hangat diperbincangkan di media adalah kisruh perang kata dalam jejaring twitter atau lebih dikenal dengan istilah twitwar yang melibatkan mereka para artis itu. Dan itupun, saya tak peduli. Yang kami (baca: para blogger) tunggu adalah klarifikasi dari pemilik blog tersebut atas tindakan semena-menanya mengubah komentar. Itu saja! Urusan lain, sabodo teuing! dan selanjutnya tindakan yang akan dilakukan oleh admin blogdetik.

#Kamseupay, satu lagi kata ‘gaul’ yang dipopulerkan oleh public figure setelah ‘Sesuatu banget‘. Pernah populer di era 80-an. Biasa diucapkan untuk sesorang yang norak, dan bertingkah seperti -maaf- orang kampung (padahal tidak semuanya orang kampung seperti itu) Kembali jadi tren di awal tahun ini. Di Indonesia sangat mudah menciptakan trending topic di twitter, #kamseupay buktinya. Lantas, kembali ke persoalan yang saya ceritakan di atas,  sebenarnya siapa yang #kamseupay? Anda bisa menilainya sendiri.

Salam,

@asepsaiba

Advertisements

34 thoughts on “#Kamseupay | Fitnah dibalik Komentar

  1. Pingback: Klarifikasi atas Komentar di Blog Marissa Haque | nonadita

  2. Kalau saya sendiri akan mengubah tanggapan jika memang keliru secara tata bahasa, namun tentu dengan tidak mengubah makna sedemikian hingga tidak memunculkan ambiguitas jika diperlukan. Atau kadang justru pihak pemberi tanggapan yang meminta untuk mengubahnya :).

    • Patut dicontoh nih apa yang dilakukan oleh Bli Cahya… .

      Jikapun memang kita ‘tak nyaman’ dengan komentar itu, akan lebih bijak jika kita cukup memoderisasinya saja tanpa ditampilkan.. (baca: dihapus). Daripada mengubahnya tanpa seijin si empunya komentar

  3. Saya mendengar berita ini …
    Dan saya terus terang prihatin dengan hal ini …

    Saya hanya berharap … semua bisa belajar dari kejadian ini … Bagaimanapun pendapat orang itu harus dihargai … dan disisi lain … kita pun juga harus santun dalam mengemukakan pendapat atau opini …

    sehingga ketidak setujuan atau keberatan … bisa dikemukakan dengan cara yang eiylekhan.
    Memutar balikkan fakta / informasi / pesan adalah sama sekali tidak bisa dibenarkan …

    So … mari kita semua menulis postingan dan juga menulis komentar dengan cara yang santun … sebab pada hakikatnya Blog adalah ranah publik … semua orang bisa mengakses dan membacanya …

    Salam saya Kang …

    (Dan … jujur saya tersanjung di sebut-sebut disini …)
    (Nuhun ya Kang)

    • E I Y L E K H A N…

      Sebuah kata yang hanya satu orang blogger yang mengucapkannya seperti itu… Sangat khas!
      Tapi terkadang memang sulit juga loh menerapkannya.. Semoga dengan lebih banyak berinteraksi dengan kawan2 eylekhan sprti om Enha, saya pun turut ketularan menjadi eylekhan… 🙂

      *maaf ya om udah nyatut namanya tanpa ijin dulu… 😉

  4. saya sendiri jika mendapati komentar yang terlalu menyerang memang lebih memilih memasukkannya ke kotak spam, niat kita ngeblog kan berbagi ya? bukan nyari musuh, nah kalo sudah kasusnya nyerempet ke banyak orang begini, bukan masalah siapa yang benar atau salah lagi yang dilihat dari titik awalnya, tapi siapa yang bersikap bijak dan tidak bijak kemudian malah membuat bumerang untuk dirinya sendiri.

    *salam kenal sebelumnya*

  5. yang penting sih bagaimana kita bisa bersikap dewasa menghadapi informasi yang simpang siur…dan ga ikut-ikutan jadi makin keruh. so tetep ngeblog tanpa jadi fobia ya… 🙂

  6. beberapa waktu lalu,saya juga menyambangi blogdetik yg dimaksud,dan kaget juga ada komentar dari @nonadita yg terlihat “janggal”. rupanya kecurigaan itu erbukti dan terjawab di sini

  7. Pingback: #Kamseupay | Fitnah dibalik Komentar (2) « [SaiBlog]

  8. Tulisan ngamuk-ngamuknya Marissa Haque adalah urusan kita semua, orang Indonesia. Bukan karena dia doktor atau diragukan doktornya, bukan karena dia selebritas atau bukan.

    Tetapi karena dia adalah anggota DPR, wakil kita, orang Indonesia. Melihat tulisannya yang berantakan dan jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, saya jadi berpikir, “Inikah kualitas anggota DPR kita?”

    Saya tidak bicara masalah substansi dan perseteruan. Saya bicara mengenai kemampuan Marissa Haque menyusun kalimat dan menyampaikan idenya dalam bahasa Indonesia. Struktur kalimatnya. Juga tata bahasanya. Belum bicara mengenai penempatan tanda baca. Berantakan.

    “Bahasa yang berantakan mencerminkan isi kepala yang berantakan,” demikian sastrawan Putu Wijaya pernah berujar.

    Masalah kemampuan Marissa Haque mengekspresikan ide atau pikiran dengan bahasa adalah masalah kita semua, karena dia adalah anggota DPR yang terhormat dan pekerjaannya adalah menyusun dan menetapkan Undang-Undang. Sah kalau saya bertanya dari arah sebaliknya. Jika Marissa tidak bisa menulis dan menyampaikan idenya dengan bahasa yang baik, apakah dia mengerti ide dalam bahasa yang tertuang di setiap kata demi kata, kalimat demi kalimat, bab demi bab sebuah Undang-Undang yang akan dibahas dan kemudian ditetapkan. Ini belum bicara soal implikasi dari sebuah Undang-Undang terhadap orang banyak. Ini baru bicara apakah dia paham apa yang dia baca dan dia bicarakan? Apakah dia paham sepenuhnya apa yang dia tolak atau yang dia dukung?

    Sungguh, luapan banjir emosi yang dituangkan oleh Marissa Haque, seorang anggota DPR, sungguh memprihatinkan buat saya. Saya tidak bicara soal remeh temeh sasaran amuk dan salah sasarannya; serta bukannya mengkritisi masalah konflik tenurial pertanahan seperti kasus Mesuji.

    Bahasa, selain bersumber dari ide yang dijalin dengan tata bahasa, juga punya rambu etika. Bahasa juga seperti senjata. Tidak sebaiknya dihamburkan main tembak ke mana-mana. Orang tak bersalah bisa kena tembak. Mentalitas menghamburkan tembakan ke mana-mana juga adalah masalah yang dihadapi aparat kita. Kasus Bima contohnya. Saya tak bilang ada korelasi langsung antara hobi ngamuk-ngamuk di blog tanpa berpikir panjang dan hobi memberondong tembakan peluru tajam tanpa berpikir. Ini hanya analogi. Kesamaannya mungkin kebetulan semata.

    Luapan amukan Marissa Haque, adalah urusan kita semua. Rangkaian peristiwa ini membongkar satu persoalan lagi di parlemen kita selain keabaian terhadap persoalan masyarakat, korupsi, dan penghamburan anggaran. Masalah itu adalah bahwa anggota DPR tidak punya kemampuan berbahasa yang baik.

    Dan, ya Tuhan, di pundak orang-orang seperti itulah kita letakkan amanah pembuatan Undang-Undang yang pada akhirnya akan menghukum atau membebaskan kita.

    Dan ini adalah, pada akhirnya, pertanyaan tentang kebebasan.

    • Sekarang ini kita sedang berjuang dari gempuran bahasa-bahasa ‘alay’ yang semakin populer, setelah sebelumnya bahasa-bahasa ‘gaul’ juga kerap dilontarkan oleh para public figure negeri ini. Perjuangan akan semakin berat jika mereka-mereka yang telah kita percaya sebagai wakil kita pun malah tidak jauh lebih baik ketimbang ‘serangan’ bahasa-bahasa tadi…

      Maka, tidak heran jika untuk membuat sebuah undang-undang saja butuh waktu jauh lebih lama.. Mungkin bukan masalah substansinya, tapi melulu penggunaan bahasa yang benar :mrgreen:

      Saya sepakat jika ini menjadi masalah serius. Bukan, bukan tentang polemik yang melibatkan ybs dan konco-konconya itu… Selain masalah serius timbulnya fitnah akibat pengubahan komentar, juga masalah serius tentang penggunaan bahasa yang benar.. Apalagi oleh seorang bertitel -calon- doktor.

      Salam saya,

      • hah susah menasihati org utk tdk berbahasa alay, bhs Indonesianya alay otomatis bhs ing nya juga ngaco apalagi kaum akademis ikut2an alay dinasihati oleh saya yg cuma lulusan SMA, wah tersinggungnya

  9. @Susi wah mbak, komentarnya sudah bisa jadi Blog post loh.. Pasti banyak yang komen, misalnya sayah. hayuuk bikin blog mbak (ngecek linknya ternyata ke Facebook hehe)..

    @asep kalo kamsia terimakasih, kalau lansia sudah tua, mari kita jangan kamseupay kalau perlu bayar pakai paypal.. 😀

  10. Pingback: #Kamseupay | Fitnah dibalik Komentar (2) | asepsaiba.web.id

  11. Pingback: #Kamseupay | Hikmah dibalik Fitnah | asepsaiba.web.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s