Berokan

Senangnya, lebaran kemarin menjumpai sekelompok anak muda memainkan kesenian khas Indramayu, Berokan (di beberapa lokasi menyebutnya Wewe / Buta). Meskipun musik yang dimainkan berasal dari pemutar musik modern. Tapi minimal mereka menghadirkan tradisi kampung yang sudah lama tidak muncul saat lebaran seperti sekarang ini.  Saya lupa kapan terakhir menjumpai Berokan. Mungkin di lebaran 2012.

Salah satu dari banyak jenis Berokan di Indramayu

Biasanya, mereka berjalan masuk ke jalanan kampung sambil memainkan musik dan sang Berokan menari-nari, sambil ada yang menghampir warga depan rumah sambil menadahkan wadah untuk meminta sekedarnya. Kebanyan memberikan uang, tapi ada pula yang memberi beras atau rokok barang benerapa batang.

Berokan menari lucu diiringi alunan lagu yang khas

Kebanyakan topeng yang digunakan merupakan produksi sendiri, sesuai selera topeng yang diinginkan. Topeng yang paling sering dibikin adalah yang menyerupai muka raksasa seperti dalam mitologi pewayangan. Buto atau buta atau raksasa menyeramkan.

Waktu kecil saya sendiri sangat takut kalo rombonga berokan datang, sampai harus sembunyi di kolong tempat tidur atau naik pohon jambu air depan rumah.. šŸ˜ƒ.

Ya, dulu di benak anak-anak kecil sang Berokan dikenal galak dan suka mengejar siapapun yang meledeknya dengan panggilan, “Bloaaaak!!!”. Meski membawa kostum uang cukup merepotkan, sang Berokan sungguh gesit mengejar anak-anak yang memang berani meledeknya. Tentu saja saya tidak termasuk di dalamnya.. šŸ˜.
Yang menarik lagi, selain wujud raksasa laki-laki, biasanya ia ditemani pula oleh Berokan raksasa perempuan. Tentu dengan raut topeng yang “feminin”. Lucunya, baik berokan laki-laki maupun perempuan biasanya diberi nama dan digantingan di leher berikan. Uniknya, nama-nama yang diberikan berasal dari tokoh-tokoh yang saat itu sedang digandrungi. Contohnya “Dion” dan “Mayang”. Bagi yang seangkatan dengan saya, pasti tahu nama kedua tokoh sinetron tersebut šŸ˜†. 

Semoga tradisi khas ini dapat terus bertahan di tengah serbuat hiburan modern di gadget yang dapat diakses begitu mudahnya, bahkan hingga di pelosok kampung. Mungkin dengan sedikit bantuan institusi terkait, kesenian-keesnian macam Berokan ini dapat tetap eksis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s